BRI Dorong Transaksi Nontunai

Anastasia Arvirianty
10/6/2016 08:50
BRI Dorong Transaksi Nontunai
(ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk berencana mengurangi jumlah uang tunai yang disiapkan di masa Lebaran. Hal itu dilakukan perseroan sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan transaksi nontunai di era digital saat ini.

"Pertimbangan lainnya dalam mengurangi uang tunai berdasarkan pengalaman pada Ramadan 2015 lalu. Perusahaan menyediakan uang tunai sebesar Rp29 triliun, tetapi jumlah tersebut ternyata berlebih sebab masih tersisa Rp6 triliun-Rp7 triliun," kata Direktur Consumer Banking BRI Sis Apik Wijayanto dalam konferensi pers, di Jakarta, kemarin (Kamis, 9/6).

Di samping itu, imbuhnya, dengan adanya digitalisasi dan sistem pembayaran digital, pengurangan jumlah uang tunai tersebut secara otomatis akan mendorong peningkatan jumlah transaksi kartu kredit, kartu debit, e-commerce, dan e-pay BRI.

"Penggunaan kartu kredit pada Ramadan bisa lebih tinggi jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Kalau pas Ramadan kan banyak yang beli kebutuhan rumah tangga dan barang-barang. Peningkatannya berapa? Itu yang masih kami amati," ujar Sis Apik.

Tahun lalu, lanjutnya, total transaksi kartu kredit BRI tercatat sebesar Rp4,5 triliun. "Diharapkan, tahun ini meningkat," tukasnya.

Selain itu, transaksi nontunai melalui e-commerce pun juga diprediksi akan meningkat mengingat pola konsumsi masyarakat yang sudah cenderung berpola digital. Untuk itu, BRI pun akan terus menambah jumlah merchant e-commerce yang saat ini sudah ada lebih dari 100 unit.

"Mudah-mudahan tahun ini bisa tambah lagi jadi 300 merchant, sebab banyak juga daerah-daerah yang sudah mulai tumbuh e-commerce-nya," tuturnya.

Dengan begitu, lanjut Sis Apik, adanya peningkatan transaksi nontunai diharapkan mampu mendongkrak total pendapatan berbasis komisi atau fee based income perusahaan yang ditargetkan pada 2016 ini mencapai pertumbuhan lebih dari Rp10 triliun, dari yang sebelumnya Rp7 triliun.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menambahkan perusahaan juga akan melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) terkait dengan pertumbuhan kredit yang akan dinaikkan sebesar 1%. "Jadi untuk kredit targetnya tumbuh sekitar 16% dari sebelumnya 15%," pungkas Haru.

Satelit tetap meluncur
Di sisi lain, setelah sempat mengalami penundaan, satelit BRIsat milik BRI pun akan tetap meluncur. Peluncuran satelit untuk penunjang operasional bank tertua di Tanah Air itu dijadwalkan pada 16 Juni pada pukul 17.30-18.35 waktu Guyana Prancis atau pada 17 Juni 2016 pukul 03.30-04.15 waktu Indonesia Barat (WIB).

Direktur Utama BRI Asmawi Syam menyambut gembira kabar ini. Ia pun mengakui pihaknya tidak mengalami kerugian terkait penundaan peluncuran tersebut. Sebabnya, satelit belum diserahkan pada BRI dan masih ada di tangan pembuatnya, yakni pihak SSL, manufaktur satelit tersebut.

"Peluncuran kan diikuti dua tahap, yakni pencarian orbit selama 10 hari sampai 12 hari, dan serah terima 90 hari setelah peluncuran. Pada saat serah terima itu barulah satelit sudah jadi milik BRI," tandas Asmawi.(E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya