Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Dipangkas Menjadi 5,1%

Nuriman Jayabuana
08/6/2016 06:47
Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Dipangkas Menjadi 5,1%
(Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro -- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PEMERINTAH dan parlemen menyepakati perubahan beberapa asumsi makro di dalam APBN-P 2016. Pertumbuhan ekonomi di dalam APBN-P diproyeksikan turun menjadi 5,1% dari sebelumnya 5,3%.

Sejumlah asumsi dasar lainnya juga mengalami pengubahan. Angka inflasi diturunkan menjadi 4% dari sebelumnya 4,7% dan kurs rupiah menjadi Rp13.500 dari sebelumnya Rp13.900 per dolar AS.

Sementara itu, suku bunga SBN tiga bulan tetap mengacu pada imbal hasil 5,5%. Pengubahan sejumlah asumsi dasar tersebut akan dijadikan acuan dalam pembahasan lanjutan terkati postur anggaran APBN-P di Badan Anggaran DPR.

“Pertumbuhan 5,1% adalah angka yang masuk akal, tapi tetap harus kerja keras. Untuk mencapai 5,1% tentu berarti harus ada kuartal di mana kita mencapai 5,3% supaya bisa ke rata rata 5,1%,” ujar Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Selasa (7/6).

Menurutnya, situasi global masih akan cukup berat untuk mempertahankan tarhet pertumbuhan ekonomi.

“Bisa kita lihat IMF selalu menurunkan proyeksi pertumbuhan global. Dan eskpektasi pertumbuhan negara negara lain juga turun, jadi ada gejolak pelemahan di banyak negara,” kata Bambang.

Kendati demikian, dua asumsi yang juga mengalami pengubahan sebenarnya menunjukan koreksi bisa dikatakan mengalami perbaikan. Asumsi dipangkas menjadi hanya 4%, dan nilai tukar Rupiah menguat menjadi Rp13.500.

Ia mengungkapkan fokus utama pemerintah saat ini merupakan pengendalian inflasi.

“Tadi dibahas secara khusus dalam rapat kabinet situasi harga bahan pokok hari ini, harga yang diinginkan, dan perbandingan harga di luar negeri. Ini menjadi perhatian utama pemerintah untuk mengatasi harga hagra, maka inflasinya sendiri kami cukup yakin 4% cukup wajar,” ungkap Menteri Keuangan.

Sementara itu, menurutnya target kurs Rupiah Rp13.500 merupakan angka yang wajar untuk dicapai.

“Mungkin kita melihat Rp13,500 dibanding misalnya seminggu lalu agak pesimistis, karena sempat Rp13.600-13.700 per dolar AS. Tapi dua hari terakhir ceritanya berbeda setelah Governor (The Fed) Yellen menyatakan perbaikan kondisi ekonomi AS tidak sebaik yang dibayangkan dan Rupiah kembali menguat. Di sini kita melihat Rp13.500 masih merupakan angka yang wajar,” ujar dia.

Sejumlah fraksi memberi catatan khusus terhadap perubahan asumsi yang bakal diteruskan ke Badan Anggaran sebagai acuan pembahasan postur anggaran tersebut.

Fraksi Hanura menilai suku bunga SBN tiga bulan selayaknya juga dikoreksi ke 5%. Sementara itu, Fraksi NasDem berpendapat nilai tukar Rupiah berpeluang berada di atas asumsi, yakni Rp13.600 per dolar AS. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya