ARUS gabungan penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia pada 2014 lalu melonjak di atas pertumbuhan PMA kawasan. Sektor yang menyedot investasi terbesar antara lain transportasi.
Demikian terungkap dalam laporan World Investment Report 2015 yang dipublikasikan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), kemarin.
Secara subwilayah, arus masuk PMA ke Asia Timur tumbuh 12% ke angka US$248 miliar. PMA Asia Tenggara tercatat meningkat 5% hingga US$133 miliar. Dengan demikian, pada tahun lalu nilai investasi regional kedua kawasan membukukan rekor bersejarah US$381 miliar.
Arus PMA ke Indonesia naik signifikan sebesar 20% hingga mencapai US$23 miliar. Singapura, penerima PMA yang dominan di Asia Tenggara, hanya mengalami 4% peningkatan PMA menjadi US$68 miliar.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan Indonesia tidak boleh berpuas diri. PMA ke Tanah Air meningkat, tetapi perkembangan proyeknya tidak signifikan akibat banyak kendala. Berbeda dengan Vietnam, meski hanya meraup US$9,2 miliar sepanjang 2014, perkembangannya sangat pesat. "Di sana investor sangat dilayani dan bagaikan raja," ujar Ketua Umum Apindo Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani di Jakarta, Rabu (24/6).
Shinta mengapresiasi upaya Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam memaniskan iklim investasi melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan insentif diskon pajak yang berjalan sudah cukup baik. Namun, proses perizinan masih kalah jauh ketimbang di Vietnam dan Singapura.
"Di sini rata-rata perizinan bisa 22 harian, di sana tidak sampai 10 hari selesai," keluh Shinta.
Pakar ekonomi dari Central for Strategist and International Studies Djisman Simanjuntak menyarankan BKPM juga mendorong perluasan investasi oleh investor yang sudah ada. (Fat/Jay/E-1)