PEROMBAKAN tim ekonomi kabinet mendesak dilakukan untuk menciptakan kredibilitas agar mampu membangkitkan kembali ekspektasi investor dan kalangan pengusaha pada umumnya.
Demikian rangkuman pendapat dari sejumlah pihak kepada Media Indonesia dalam beberapa kesempatan, kemarin.
Menurut pengamat ekonomi Aviliani, untuk mengangkat ekspektasi investor dan masyarakat bisnis yang kini mulai menurun tersebut sangat bergantung pada kredibilitas kabinet.
"Kita butuh kredibilitas yang tecermin dari ucapan para menteri. Jadi, mau dirombak atau tidak, kita harus punya menteri yang ucapannya kredibel sehingga dapat menarik kepercayaan investor. Ucapan menteri yang tidak konsisten akan membuat investor ragu-ragu," kata Aviliani.
Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Hubungan Kerja Sama Luar Negeri Maxi Gunawan menilai perlunya pemerintah memperbaiki kinerja ekonomi dengan mewujudkan komitmen untuk menarik investor. "Siapa dan dari mana pun investor pasti melihat potensi Indonesia. Namun, sudah pasti mereka juga melihat fasilitas dan benefit yang didapat."
Seiring masuknya investasi, Maxi pun berharap produktivitas di dalam negeri meningkat sehingga memacu kinerja ekspor. Meski begitu, Maxi mengingatkan pelemahan ekonomi saat ini mesti pula disikapi secara bijak. "Presiden menyampaikan jangan ganggu kinerja para menteri. Kita harus dukung mereka karena baru bekerja delapan bulan."
Namun, Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati memandang tidak ada salahnya mengevaluasi kabinet khususnya tim ekonomi. "Harus di-break down sampai ke sistem bukan personal."
Selain itu, lanjut Enny, pemerintah perlu merancang program stimulus fiskal yang konkret dalam jangka pendek. Tidak cukup stimulus fiskal di sektor infrastruktur untuk jangka menengah dan panjang.
"Di sini perlunya kementerian ekonomi menciptakan program yang efektif dan efisien dalam jangka pendek," ujar Enny.
Dari sisi lain, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia Franciscus Welirang berpendapat respons pelaku pasar terhadap perombakan tim ekonomi kabinet bisa menggenjot berbagai sektor perekonomian di Indonesia.
Faktor eksternal Saat menanggapi desakan sejumlah kalangan tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambutnya positif. "Sah-sah saja pengusaha memberi masukan. Namun, keputusan perombakan kabinet tetap di tangan pemerintah."
Kendati demikian, Kalla meng-akui kinerja sejumlah menteri di bidang ekonomi belum optimal. Masih banyak sektor yang perlu diperbaiki. "Kami menilai bukan hanya enam bulan, tetapi agak menengah, memang banyak yang harus didorong (kinerjanya)."
Wapres JK menambahkan, ganjalan ekonomi di Tanah Air bukan hanya menyangkut persoalan domestik yang mesti diselesaikan para menteri. Faktor eksternal juga ikut memberikan andil. "Bahwa juga dipengaruhi, ya pasti. Kami usahakan (untuk memperbaiki)."
Pelemahan ekonomi nasional belakangan kian menjadi sorotan berbagai pihak, tidak hanya kalangan dunia usaha. Sebut saja nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berfluktuasi di kisaran 13.000. Belum lagi hambatan bongkar muat barang di pelabuhan dan gejolak harga pangan kendati pemerintah memastikan stok di pasar dalam kondisi aman. (Mus/Wib/*/X-4)