Bank DKI Emisi Obligasi

Arv/E-2
04/6/2016 05:11
Bank DKI Emisi Obligasi
(ANTARA/Aprillio Akbar)

SEBAGAI upaya meningkatkan ekspansi bisnis, PT Bank DKI menawarkan obligasi berkelanjutan yang rencananya akan diterbitkan secara bertahap dalam periode dua tahun melalui proses penawaran umum berkelanjutan (PUB).

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Bank DKI Kresno Sediarsi dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin.

Kresno menjelaskan, pada PUB I tahap I total nilai obligasi yang diterbitkan Rp1 triliun, berjangka 5 tahun dengan indikasi tingkat kupon 8,5%-9,4% per tahun.

"Perusahan menargetkan total dana yang akan dihimpun dari dua tahap PUB ini sebesar Rp2,5 triliun. Nantinya dana yang diperoleh setelah dikurangi biaya-biaya lain akan dipergunakan untuk ekspansi pemberian kredit atau pinjaman," terang Kresno.

Ia juga menambahkan, penawaran obligasi itu bertujuan memperbaiki struktur pendanaan, dengan Iebih difokuskan kepada penyaluran kredit konsumsi dan kredit mikro, sejalan dengan arah bisnis Bank DKI yang memprioritas kredit kepada sektor mikro, terutama yang berkaitan dengan Pemprov DKI Jakarta.

Menurutnya, dengan rekam jejak perusahaan yang baik, manajemen operasi yang baik, proyeksi arus kas yang kuat, dan profil perbankan yang baik, perusahaan optimistis PUB itu akan sukses.

Ia juga memaparkan periode penawaran awal (book building) untuk PUB I tahap I itu dimulai kemarin sampai 14 Juni 2016, penawaran umum pada 24 Juni dan 27 Juni 2016, penjatahan pada 28 Juni 2016, distribusi secara elektronik di KSEI pada 30 Juni 2016, serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 1 Juli 2016.

Direktur Bank DKI Antonius Widodo menambahkan, ekspansi kredit yang akan dilakukan sudah pasti terkait dengan APBD, BUMD, dan masyarakat, termasuk proyek MRT, LRT, Trans-Jakarta, dan sebagainya.

Per 31 Desember 2015 total aset Bank DKI tercatat Rp3864 triiiun dengan dana pihak ketiga Rp2819 triliun, dan kredit Rp25,69 triliun.

Lebih lanjut, Bank DKI tengah menjajaki peluang melakukan penawaran umum saham publik perdana (initial public offering/IPO).

Menurut Kresna, dengan menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia, performa Bank DKI bisa dikontrol sistem pasar yang terbuka dan masyarakat.

"Kalau dikendalikan oleh stakeholder yang terdiri dari satu, yaitu Gubernur DKI Jakarta, itu terlihat seperti private company. Kalau IPO (dilakukan), (Bank DKI) bisa diawasi berbagai stakeholder," katanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya