Internet,Media sonder Pilih Kasih

(Fathia Nurul Haq/E-4)
04/6/2016 03:00
Internet,Media sonder Pilih Kasih
(Ilustrasi)

KEMAUAN dan ketekunan bisa menjadi faktor terpenting untuk kesuksesan dan membuat seseorang bisa melampui keterbatasan dalam dirinya. Seperti yang ditunjukkan Rico dan Sapto, dua penyandang tunanetra yang mampu membangun bisnis pemasaran jarak jauh (telemarketing) dengan memanfaatkan internet. Dengan memanfaatkan big data, yakni data daring dari rekam jejak pengguna internet dan disediakan cuma-cuma di media sosial, mereka mampu melakukan segmentasi pasar dengan lebih mudah dan tepat sasaran. Rico yang sudah memahami telemarketing sejak masih kuliah karena menggilai informasi teknologi (IT) ini, bahkan rela meninggalkan bangku kuliah sebelum lulus. "Saya lepas (kuliahnya) karena takutnya nanti kalau saya tunggu lulus, tidak ada yang mau terima saya bekerja," ujarnya di Jakarta, jumat (4/6).

Pengorbanan Rico tidak sia-sia. Dari hasil berjualan secara daring itu dalam 1, 5 bulan, ia mampu menghasilkan lebih dari Rp200 juta dari penjualan beraneka barang. Kini, ia pun membantu sesama penyandang tunanetra untuk dapat menguasai keahlian telemarketing tersebut. Hal senada diungkapkan Sapto, 30, yang sudah lima tahun bekerja sebagai pemasar (telemarketer) Bank Permata. "Ketertarikan saya pertama karena peluang tunanetra di dunia kerja terbatas. Yang sudah ada telemarketing dan operator telepon. Biasanya kalau belum ada model atau contoh belum ada bayangan," kata Sapto. Namun, di mata Direktur Permata Bank Syariah Achmad K Permana, kinerja Sapto dan para penyandang disabilitas yang menjadi telemarketer di kantornya boleh diadu dengan pekerja lain.

"Mereka produktif, disiplin, dan sabar," puji Achmad. Hingga saat ini, Permata Bank memiliki 13 telemarketer tunanetra atau 20% dari total telemarketer yang mereka miliki. "Salah satu tujuannya memang memberi kesempatan yang sama (untuk para penyandang disabilitas)," tukasnya. CEO of PT Kartunet Media Karya, Dimas Prasetyo, mengemukakan telemarketing memang cocok bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Itulah yang mendasari Dimas, yang juga tunanetra, mendirikan perusahaan untuk mewadahi para tunanetra.

"Kartunet itu singkatan dari karya tunanetra. Dengan begini tunanetra bisa mandiri, kepercayaan dirinya juga bisa pulih," kata dia. Keterbatasan visual yang dimiliki para tunanetra dapat diatasi dengan teknologi komputer bicara, yakni penerjemah suara yang menuntun pengguna berselancar lewat petunjuk suara dan ejaan tulisan. Kunci sukses telemarketer, menurut Rico, ialah tepat sasaran. Big data, menurutnya, sudah merekam identitas, ketertarikan, hingga jenis ponsel yang digunakan pengguna. Informasi itu menjadi modal awal pendistribusian informasi produk kepada pangsa pasar yang tepat. "Di internet kita dilihat bukan sebagai kita, melainkan apa yang bisa kita lakukan dan tidak membatasi bagi yang punya keterbatasan."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya