Tol Laut bukan Program Dongeng

Andhika Prasetyo
31/5/2016 06:41
Tol Laut bukan Program Dongeng
(ANTARA/Aprillio Akbar)

PEMERINTAH memastikan program tol laut, yang menjadi unggulan rezim Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan perekonomian nasional, telah berjalan dengan baik.

"Kami ingin menegaskan program ini bukan dongeng semata. Tol laut sudah berjalan dalam beberapa bulan terakhir," ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli seusai rakor mengenai tol laut di kantornya, di Jakarta, kemarin.

Keyakinan Rizal itu diperkuat dengan penyataan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang menyebut anggaran program tol laut sepenuhnya didukung APBN.

"Dukungan itu dilakukan untuk dua hal, yakni untuk kapal dan operasional kapal itu," ujar Bambang.

Dari segi kapal, Bambang mengatakan tahun lalu sudah dikeluarkan dana sebesar Rp500 miliar untuk PT Pelni demi pengadaan enam kapal barang.

Selanjutnya, dana sebesar Rp350 miliar diberikan kepada PT Djakarta Lloyd untuk revitalisasi enam kapal barang dan membeli satu kapal baru.

"Semuanya untuk mendukung program tol laut," tuturnya.

Untuk biaya operasional kapal-kapal itu, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memberikan alokasi anggaran sebesar Rp1,16 triliun.

"Itu untuk mendukung subsidi angkutan barang sebesar Rp220 miliar, angkutan ternak Rp8 miliar, dan angkutan penumpang Rp937 miliar," jelas Bambang.

Untuk fasilitas pelabuhan, pemerintah memberikan anggaran sebesar Rp2,08 triliun, sedangkan untuk arus pelayaran Rp761 miliar.

Bambang melanjutkan, selain kapal-kapal yang diinvestasikan Pelni dan Djakarta Lloyd, akan ada pula kapal-kapal perintis yang dikembangkan Kementerian Perhubung-an dengan anggaran Rp4,65 triliun pada 2016 dan 2017.

"Rencananya, kapal perintis tersebut akan selesai 8 unit pada tahun ini dan 52 unit pada 2017. Selain itu, ada 15 kapal kontainer dan 5 kapal ternak yang akan rampung pada 2017," ungkapnya.

Berimbas pada harga

Rizal mengklaim, keberadaan tol laut membuat berbagai permasalahan dapat teratasi, mulai akses transportasi hingga stabilisasi harga pangan.

"Pulau-pulau kecil di timur Indonesia yang dulu tidak memiliki akses transportasi laut menjadi terjembatani," ucap Rizal.

Begitu juga segi harga pangan. Ia mengatakan, di beberapa lokasi di Papua, tol laut berhasil menurunkan harga komoditas secara signifikan.

"Sebelum ada tol laut, perbedaan harga di Indonesia bagian barat dan timur jauh sekali. Tapi sekarang, harga beras di sana sudah turun 22%, harga bawang merah turun 22%," paparnya.

Kendati demikian, Rizal mengakui harga turun itu masih sebatas di pantai atau pelabuhan.

Ketika komoditas itu berpindah ke daerah terpencil, seperti pegunungan, harganya naik lagi karena akses transportasi yang sulit.

"Untuk menurunkan harga pangan di wilayah timur memang masih banyak yang perlu dilakukan," kata dia.

Di kesempatan sama, Direktur Utama PT Pelni, Elfien Goentoro, mengatakan akan memberikan yang terbaik dalam program tol laut tersebut.

"Itu target kami. Kami akan atur standardisasi, atur konektivitas. Semua yang belum sesuai kami perbaiki dan kami optimalkan," ucap Elfien.

(E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya