Sekolah dalam Imajinasi Uung

(Kristiadi/N-4)
30/5/2016 04:40
Sekolah dalam Imajinasi Uung
()

SETELAH mandi, Awaludin alias Uung, 23, tidak mau menggunakan pakaian lain selain seragam sekolah. Anak ketiga dari lima saudara pasangan Abdul Hadi, 56, dan Rohanah, 50, itu juga selalu minta disiapkan buku dan pulpen. Dalam kondisi kaki terikat dalam pasungan, warga Kampung Sudimara, RT 02 RW 08, Kelurahan Karikil, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, itu selalu berteriak ingin sekolah. Sudah tujuh tahun Uung dipasung keluarganya. Bilik bambu seukuran 1,5 meter persegi yang beralaskan lantai yang sudah bolong di sana-sini menjadi ruangan kelas Uung dalam imajinasinya sendiri. Tak ada seorang pun yang berani mendekat karena dia selalu melemparkan apa saja berada di kamar itu. Selama itu juga, ayah dan ibu kandungnya menjadi sasaran pemukulan Uung saat memberikan makanan. Meski matanya menatap kosong, Uung tetap menatap lekat wajah kedua orangtuanya dengan tersenyum.

Suaranya meninggi dan keluar kata-kata kasar dari mulutnya manakala kemauannya tidak diindahkan. Karena Uung sudah tujuh tahun dalam pasungan, kondisinya sekarang sangat memprihatinkan, terutama kakinya yang sudah mengecil karena dirantai. Sambil menghela napas panjang, sang ayah, Abdul Hadi, pun bertutur. "Awalnya Uung mau ikut berjualan setelah lulus SD dan berbicara akan tetap melanjutkan ke jenjang SMP bersama teman-temannya. Namun, apa daya keluarga tidak memiliki biaya untuk menyekolahkannya," ucap Abdul Hadi kepada Media Indonesia, kemarin.

Aris Budiman, 55, salah satu tetangga Uung, mengatakan Uung dikenal sebagai anak pendiam dan selalu bekerja keras dalam membantu kedua orangtuanya dengan berjualan es dan es cendol. Namun, setelah lulus SD, dia kerap melamun saat melihat teman seusianya berangkat sekolah. "Dia selalu melamun, tertawa, dan bernyanyi sendiri dan terkadang ingin menggunakan pakaian sekolah sendiri meski orangtuanya telah berupaya membawanya ke pengobatan alternatif dan tidak kunjung sembuh," ungkap Aris.

Rumah milik orangtuanya habis dirusak. Pintu rumah ditendang dan kaca jendela dilempari batu. Uung juga suka melemparkan batu ke rumah tetangga, terutama kaca jendela. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang ayah mengaku hanya mengandalkan es keliling yang dijualnya. Jika terjadi hujan dan penjualan tidak laku, Abdul terpaksa meminjam uang kepada tetangga untuk membeli beras. Sumiati, 45, warga setempat, mengungkapkan keluarga miskin Abdul Hadi tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah daerah, termasuk dinas kesehatan meskipun salah satu anak mereka jelas berada dalam pasungan. "Tetangga sering memberikan batuan berupa beras dan juga memberikan ala kadar, seperti pakaian dan makanan ," terang Sumiati.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya