Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI perekonomian Indonesia di era Orde Baru dan masa kini boleh saja berbeda. Banyak perubahan dan perkembangan mengiringi perjalanan ekonomi Tanah Air dari masa lalu hingga saat ini. Namun, sehebat apa pun perubahan itu, pemikiran seorang maestro tetap akan selalu menjadi referensi dan pedoman. Itulah sekelumit pujian yang keluar dari mulut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengenai sosok Widjojo Nitisastro, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, juga Ketua Bappenas periode 1973-1978 dan 1978-1983. "Yang ia kerjakan di masa lalu tetap akan menjadi referensi dan rujukan bagi kami yang kini bertanggung jawab menjalankan pengelolaan ekonomi dan keuangan negara," ujarnya dalam peluncuran buku Widjojo Nitisastro: Panditaning Para Raja di Jakarta, Sabtu (28/5).
Kemastreoan salah seorang ekonom hebat yang wafat pada 9 Maret 2012 itu memang tak diragukan. Setidaknya itu terlihat dari banyaknya tokoh nasional yang menghadiri peluncuran buku yang ditulis putri Widjojo sendiri, Widjajalaksmi Kusumaningsih. Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan tanpa ragu menyebut tidak ada ekonom yang memiliki kepemimpinan dan kemampuan setara dengan Widjojo Nitisastro. "Sewaktu saya dan Pak Jokowi menyusun kabinet terakhir, pertanyaan beliau kepada saya, 'ada enggak ekonom yang setara dengan Pak Widjojo untuk mengisi arsitek kita sekarang ini?' Setelah berdiskusi, kami ambil kesimpulan tidak ada ekonom yang setara," kata JK. Ia juga sependapat dengan Bambang.
Menurut JK, pemikiran ekonom terdahulu, mulai dari Mohammad Hatta, Soemitro Djojohadikusumo, hingga Widjojo, selalu menjadi acuan meskipun zaman, kondisi, dan skala ekonomi Indonesia telah berbeda. Saat ini, ia menilai tertinggalnya laju perekonomian Indonesia dikhawatirkan berasal dari kebijakan yang salah. "Aset Indonesia lebih banyak di luar negeri daripada di dalam negeri. Apa yang keliru? Bisa saja keliru dalam undang-undang ekspor-impor, kita bisa keliru menerapkan UU Devisa, UU Pajak. Kebijakan kita memang perlu dievaluasi." Selain Wapres dan Menkeu, sejumlah menteri dan ekonom senior ikut memberikan tanggapan terhadap Widjojo. Mulai dari Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, mantan Wapres Boediono, Anwar Nasution, Chatib Basri, hingga Emil Salim. "Almarhum juga memiliki koneksi internasional sehingga mampu meyakinkan pemerintah dan parlemen negara-negara IGGI/CGI memberikan pinjaman lunak selama 32 tahun (1966-1998) kepada Indonesia," tukas Anwar Nasution.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved