DIBALUT setelan kemeja batik berwarna biru dan celana hitam, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel tampak menikmati perjalanan singkatnya mengelilingi area penggemukan sapi dengan menumpangi mobil terbuka yang telah dimodifikasi, di Tangerang, akhir pekan lalu.
Pandangan matanya tak lepas dari ribuan sapi impor asal Australia yang dikandangkan di atas lahan seluas 60 hektare milik PT Tanjung Unggul Mandiri. Kendati demikian, bau kotoran sapi yang menyeruak pada akhirnya membuat dirinya berulang kali menutup hidung dan mengernyitkan kening.
Pria berdarah Gorontalo itu kemudian melontarkan canda. "Boleh juga dibuat minyak wangi berbau kotoran sapi biar kita terbiasa," celetuknya yang kemudian disambut tawa rombongan.
Melihat begitu banyaknya sapi impor yang ditampung, ia melambungkan wacana baru untuk program jangka menengah-panjang. Ekspor sapi, demikian ditegaskan Rachmat.
"Dari tahun ke tahun kita selalu bicara impor sapi. Seha-rusnya kita harus memikirkan pasar ekspor. Indonesia itu punya potensi untuk kembangkan ekspor sapi," ucapnya.
Wacana itu mungkin relatif tidak lazim mengingat Indonesia hingga kini pun belum bisa memenuhi sendiri kebutuhan daging di dalam negeri.
Menurut Mendag, pihaknya kini tengah mendekati para produsen atau pelaku usaha berskala besar guna bersama-sama membahas perhitungan kebutuhan impor dan potensi ekspor yang kemudian dipadukan dengan kebutuhan domestik. Di masa depan, perlu dibuat kawasan peternakan sapi yang terintegrasi sampai areal industrial. Sejauh ini, kawasan pengembangan sapi baru sampai pada level penggemukan. "Kalau terintegrasi antara peternakan dan industri, ada banyak potensi yang bisa dikembangkan. Contohnya jeroan, saat ini kan pemerintah larang impor jeroan. Dengan industri pengelolaan sapi, kebutuhan jeroan bisa dipenuhi dari situ. Ini yang sedang kami bahas," urai dia.
Meski begitu, bukan berarti pemerintah menabukan impor daging. Kemungkinan itu tetap ada. "Cuma ini kan upaya menuju swasembada pangan. Harus direncanakan dari sekarang," kata dia.
Rachmat memprediksi realisasi ekspor daging sapi bisa dilakukan bertahap. Ia mencontohkan, jika ada kuota impor daging sapi 100 ribu ekor, 80% di antaranya bisa untuk kebutuhan domestik. Lalu, sisanya diolah menjadi produk ekspor daging sapi.
"Formulasinya sedang kami rumuskan. Jadi, di satu sisi kita bisa dukung target ekspor nasional 300%, di lain sisi kita bisa pecahkan persoalan su-plai domestik," kata dia.
Aman Terkait stok daging sapi untuk beberapa pekan mendatang, Rachmat menegaskan stok aman. Cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Lebaran tiba. "Saya cek kesiapan sapi-sapi yang ada di Tangerang dari dekat. Dari sini (feedlot) saja stok mereka terbilang lebih untuk Ramadan," ucapnya.
Presiden Direktur PT tanjung Unggul Mandiri Buntoro Hasan ikut membenarkan. Menurutnya dengan keputusan pemerintah memberikan tambahan impor sapi bakalan siap potong 29 ribu ekor sebagai tambahan impor dari kuartal I (250 ribu ekor), serta mengizinkan importasi 1.000 ton daging sapi jenis secondary cut kepada Bulog, itu menunjukkan stok daging sapi nasional dalam situasi aman.
Dari areal lokasi penggemukan sapi miliknya, sedikitnya terdapat 23 ribu ekor sapi dari total kapasitas penampungan 48.500 ekor sapi. Sebelum didistribusikan, sapi-sapi berjenis brahman itu telah melalui proses penggemukan selama 120 hari. Dari berat awal 300 kg menjadi 460 kg. "Stok untuk bulan puasa dan Lebaran cukup. Setiap hari dari tempat kami keluar 250-300 ekor sapi yang didistribusikan ke rumah pemotongan hewan di kawasan Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat," ujar Buntoro. (E-2)