Pemerintah Diminta Beri Ruang Generasi Muda Selamatkan Tenun

Syarief Oebaidillah
26/5/2016 22:15
Pemerintah Diminta Beri Ruang Generasi Muda Selamatkan Tenun
(Foto Istimewa)

PEMERINTAH diminta memberi ruang bagi generasi muda dalam menyelematkan potensi tenun sebagai warisan budaya melalui jalur wirausaha. Apalagi, potensi tenun Indonesia mulai banyak dilirik asing untuk dikembangkan dalam skala industri di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Hal tersebut dikemukakan Pendiri Tenun Sri Indonesia, Futri Zulya Safitrei, pada diskusi interaktif bertema 'To Be A Winner Generation for ASEAN Economy Community', di Jakarta, Kamis (26/5).

Dikatakan Futri, di era MEA, tenun Indonesia tidak hanya dapat menjadi warisan budaya, tetapi juga potensi berwirausaha yang memiliki pasar di dalam dan di luar negeri. Ia mengingatkan pengembangan tenun sebagai produk lokal asli Indonesia harus mendapat perhatian luas. Pasalnya, sudah banyak investor asing yang mengincar tenun untuk dikembangkan menjadi komoditi industri.

"Kita jangan sampai kecolongan karena potensi tenun kita sudah banyak diincar Malaysia dan negara lain," ungkap Futri.

Kegiatan diskusi interaktif antara Sri Indonesia dan mahasiswa itu bekerja sama dengan Generasi Pandai dengan target mahasiswa di kampus-kampus Tanah Air. "Mereka, generasi muda harus dididik untuk mencintai produk lokal, sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Indonesia," tegas Futri yang lulusan Australian National University itu.

Dijelaskan, Sri Indonesia sengaja memilih kain tenun mengingat tenun yang sarat akan nilai-nilai budaya. Selain itu, jika dipadukan dengan kreativitas, ternyata tenun dapat menghasilkan produk lokal yang memiliki nilai jual tinggi.

Program Sri Indonesia itu mengincar kaum muda Indonesia untuk bergerak menyelamatkan tenun melalui jalur wirausaha. Sebab saat ini, tenun tidak lagi hanya dibuat dengan proses manual, tapi sudah bisa masuk pabrikan.

"Dalam mendorong tenun kita mendunia, maka harus banyak orang Indonesia yang pakai tenun dulu. Tenun tidak lagi berharga mahal, karena sudah bisa masuk pabrikan, ini peluang buat anak muda kita berwirausaha," ungkap Futri.

Ia menambahkan guna memulai wirausaha ia mengaku sengaja menyasar mahasiswa untuk memperkenalkan tenun. Sebab di tangan anak muda, tenun dapat menjadi produk-produk kreatif yang memiliki nilai jual. Sri Indonesia telah berjualan melalui media sosial, terutama Instagram.

"Mahasiswa-mahasiswa kita ‎sangat dekat dengan dunia media ini, dan ini potensi berwirausaha yang menjanjikan," ungkap Ketua Hipmi Banten ini dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, Kamis.

Dalam kesempatan sama, pengurus DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Farah Inggrid menyayangkan, jumlah wirausahawan di Indonesia masih sangat rendah, hanya 2% dari jumlah total penduduk. Artinya, jumlah wirausahawan muda berada di bawah angka 2%. Padahal, potensi generasi muda dalam berwirausaha sangat tinggi jika dikembangkan.

"Anak muda kita kreatif, tapi sayangnya masih banyak kendala dalam memulai usaha, terutama dari sisi permodalan," ujarnya.

Inggrid juga meminta pemerintah memberi ruang kepada generasi muda ‎untuk mulai menggeluti dunia usaha. "Pemerintah harus mampu mendongkrak munculnya wirausahawan muda yang mau bergerak mengelola potensi lokal. Jika tidak, pasar kita akan dibanjiri produk dari luar, sementara produk lokal kita seperti tenun justru mati di negara sendiri," pungkasnya. (RO/Bay/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya