Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KERJA sama antara PT Pertamina (persero) dan Open Joint-Stock Company (OJSC) Rosneft Oil Company akan mencakup hal yang lebih luas. Kedua BUMN yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi (migas) itu melakukan penandatanganan kerangka kerja sama (framework agreement) agar realisasi ke depan lebih terarah.
"Ada sejumlah aspek kerja sama yang akan dijalankan. Itu sebabnya kita butuh framework,” ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam 'Signing Ceremony Kerja Sama antara Pertamina dan Rosneft' yang turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral IGN Wiratmaja Puja, Kamis (26/5).
Lebih lanjut Dwi menjelaskan, kerja sama di sektor minyak meliputi pembangunan kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban di Jawa Timur dengan nilai investasi berkisar US$12 miliar-US$13 miliar, berikut peluang kerja sama di sektor hulu dengan Pertamina mendapatkan peluang untuk mengelola minimal dua blok migas di Rusia.
Harapannya, sambung Dwi, perseroan dapat memperoleh pasokan crude sebesar 35 ribu barel per hari (bph) dan cadangan minyak 200 juta boepd. Dengan begitu, kekurangan produksi dapat diatasi dan sekaligus mendorong kemandirian energi.
“Sedangkan untuk pasokan crude ke GRR Tuban, dari kesepakatan ditentukan 45% dari Rosneft, 55% sisanya dari Pertamina. Artinya, Pertamina memiliki kesempatan untuk mencari yang terbaik,” imbuh Dwi sekaligus memastikan Kilang GRR Tuban mulai produksi (on stream) pada 2021 mendatang.
Sebagai perusahaan minyak yang sudah lama malang melintang di sektor perminyakan, Rosneft pun menjanjikan untuk melakukan transfer teknologi. Rosneft berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia membangun cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR).
Dwi mengungkapkan dengan konsumsi minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), Indonesia masih harus melakukan importasi sebesar 50% untuk memenuhi kebutuhan lantaran kapasitas produksi kilang berkisar 800 bph.
"Pertamina berkomitmen untuk memenuhi kapasitas pengolahan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan GRR Tuban menjadi proyek penting untuk mencapai ketahanan energi nasional. Produksi hulu minyak saat ini belum sebanding dengan permintaan nasional," urai dia.
OJSC Rosneft Oil Company disebutkan Dwi telah melalui proses seleksi yang ketat dan komprehensif dalam rangka mencari strategic partner. Rosneft sendiri telah berhasil mengalahkan Saudi Aramco yang selama ini digadang-gadang sebagai kompetitor terkuat.
"Rosneft setidaknya sudah memenuhi enam syarat, terkait supply crude dia memiliki resource yang baik, aspek finansial kuat, pengalaman mengoperasikan kilang, pengalaman go international, pengalaman dalam hal teknologi dan strategi bisnisnya dengan Pertamina sejalan,” jelasnya.
Adapun Vice President for Refining Petrochemicals Commerce and Logistics of OJSC Rosneft Oil Company Didier Casimiro berharap kerja sama ini akan mendatangkan efek pengganda (multiplier effect) bagi kedua negara. Termasuk memperluas kerja sama di bidang ekonomi lainnya.
“Kita pastikan Pertamina akan mendapatkan right pricing dan benefit. Kami optimistis dapat merampungkan proyek Tuban dengan kemampuan Rosneft yang tidak perlu diragukan lagi di sektor minyak,” tukas Didier. (Tes/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved