MEMASUKI pekan pertama Ramadan, belum ada kepastian perihal realisasi tim pengendali harga yang jadi turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengendalian Stok dan Harga Pangan. "Sekarang yang penting kita upayakan harga kebutuhan bahan pokok turun dan stabil. Susunan (tim pengendali harga) lagi disiapin, begitu juga mekanisme kerjanya," cetus Menteri Perdagangan Rachmat Gobel seusai melepas rombongan Operasi Pasar Daging dan Beras di wilayah DKI Jakarta, kerja sama Kementerian Perdagangan bersama Artha Graha Peduli, kemarin.
Tim yang bakal berkomposisi dari berbagai perwakilan kementerian/lembaga terkait, pelaku usaha, hingga konsumen itu, sambung Gobel, akan bekerja sebelum Lebaran. Hanya saja, kala disinggung kepastian waktu beroperasinya tim tersebut, lagi-lagi Gobel enggan sesumbar. "Pokoknya sebelum Lebaran sudah keluar susunan timnya," ujarnya.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Srie Agustina mengakui tim itu masih digodok. "Sebentar lagi mungkin diteken (Mendag). Cuma saya belum tahu kapan. Bisa saja pekan depan pemberitahuannya," kata dia. Sebelumnya, ia menjelaskan tim tersebut nantinya hanya akan bekerja secara biasa mengingat kondisi harga bahan kebutuhan pokok kecuali cabai masih wajar.
Begitu harga melambung, baru tim ini akan berjalan untuk mengendalikan harga agar sesuai dengan yang ditetapkan Kemendag. Adapun harga barang-barang kebutuhan pokok yang akan diatur ialah yang harga medium. Harga barang premium alias barang-barang yang dikemas dan di-branding serta ada di pasar ritel tidak diatur. "(Barang) premium tidak akan kita atur karena premium itu hanya 20% sehingga hanya barang medium yang akan kita atur, sebab barang ini dikonsumsi masyarakat luas," jelas Srie.
Harga patokan Terkait harga daging sapi yang kini menyentuh tiga digit, Mendag mengatakan pihaknya sedang menentukan formulasi penghitungan batas atas dan bawah harga. Penentuan harga patokan daging sapi itu disebut Rachmat dilakukan bersama dengan asosiasi produsen serta pedagang besar. Ia mengakui hal itu agak rumit lantaran adanya disparitas harga antarwilayah yang cukup tinggi di Tanah Air.
"Seperti Jakarta, mana bisa disamakan dengan Papua. Mengapa? Karena ada perhitungannya, dari sisi cost, biaya logistik, serta kenaikan harga BBM itu sangat berpengaruh," papar Gobel dalam tinjauannya di lokasi penggemukan sapi (feedlot) PT Tanjung Unggul Mandiri, Tangerang, kemarin. Lebih lanjut, ia menegaskan stok sapi dan daging dalam kondisi aman.
Srie menambahkan, nantinya yang bertugas secara resmi melakukan penghitungan harga patokan sekaligus pemantauan kebutuhan bahan pokok, termasuk daging sapi, ialah tim pengendali harga. Menurutnya, pemerintah berharap harga rata-rata nasional daging sapi nasional bisa ditekan menjadi Rp97.500 per kg. Adapun dua tahun lalu, pemerintah pernah menetapkan harga referensi daging Rp76 ribu per kg.
Selama harga di atas itu, keran impor tetap dibuka. Perihal harga daging sapi di pasaran yang berkisar Rp100 ribu per kg, Presiden Direktur PT Tanjung Unggul Mandiri Buntoro Hasan menilainya wajar. "Soalnya begini, sampai RPH (rumah potong hewan) saja harga daging sapi sudah Rp74 ribu per kg. Itu belum dilempar ke pasaran kan," terang importir sapi Australia itu.