Pertamina Fokus Tingkatkan Kapasitas Kilang

Nuriman Jayabuana
25/5/2016 16:12
Pertamina Fokus Tingkatkan Kapasitas Kilang
(MI/Susanto)

PERTAMINA fokus meningkatkan produksi minyak di dalam negeri. Kapasitas kilang Pertamina yang baru sanggup menyuplai 800 ribu barel per hari masih jauh untuk menutupi kebutuhan nasional sebesar 1,6 juta barel per hari. Defisit 800 ribu barel per hari tersebut harus dipenuhi melalui impor.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menargetkan Indnesia bebas impor minyak dalam sepuluh tahun ke depan. “Maka kilang harus terus kita tingkatkan. Targetnya, pada 2025 Pertamina harus bisa produksi di atas 2 juta barel per hari,” ujar Dwi dalam seminar nasional bertajuk ‘Winning the AEC War’ di Jakarta, Rabu (25/5).

Dwi mengungkapkan sedikitnya dibutuhkan 40 miliar USD untuk investasi kilang Pertamina. “Jadi nantinya upstream harus bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kelebihan produksi 400an barel per hari bisa kita pasarkan ke regional (ASEAN),” ujar Dwi.

Pertamina melihat era komitmen Masyarakat Ekonomi Asean sebagai peluang perluasan market di kawasan regional. Menghadapi era kompetisi global, Pertamina menganggap peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi sebagai agenda utama.

“Dalam mindset kita sudah tentu harus berpikir mengenai MEA. Dalam berkompetisi kita harus kuat. Di masa lalu banyak yang memandang Pertamina tidak efisien. Karena itu, efisiensi apa yang harus dilakukan Pertamina sejak saya bergabung,” ujar dia.

Terlebih, perusahaan migas pelat merah tersebut masih cukup terpukul dengan belum membaiknya harga minyak dunia. Sehingga hal tersebut menuntut Pertamina untuk terus meningkatkan efisiensi.

“Dulu tidak pernah terbayangkan harga minyak mentah dari seharga US$110 per barel bisa turun sampai US$60 saja tidak terbayangkan. Semua orang waktu itu masih berpegang patokan harga minyak paling terjun masih di atas US$100 per barel,” ujar Dwi.

Dwi menjelaskan pada struktur industri bisnis energi di Indonesia masih belum mampu mengisi kebutuhan minyak dalam negeri. Sebab selama seperempat abad terakhir pembangunan kilang baru selalu dihambat.

“Kenapa? Karena selalu kalau kita mau bangun kilang, isu investasi besar tidak ekonomis gencar di mana mana,” ujar dia. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya