Institut Otomotif Resmi Beroperasi

(Ire/E-3)
23/5/2016 00:10
Institut Otomotif Resmi Beroperasi
(Foto istimewa)

PEMERINTAH lewat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan Institut Otomotif Indonesia (IOI) atau Institute Automotive Indonesia (IAI) untuk menghadapi tantangan industri otomotif saat ini. Sekretaris Jenderal Kemenperin, Syarif Hidayat, mengatakan, institusi merupakan salah satu cara untuk membangun lingkungan yang mendukung industri otomotif. "Kita harus lebih andil karena bicara industri otomotif bukan sekadar buat kendaraan atau pabrik, melainkan buat lingkungan supaya industri hidup," ungkapnya dalam Forum Group Discussion di Ruang Garuda Kemenperin, Jakarta, Jumat (20/5). Pemerintah bisa saja membuat road map, tapi wadah untuk mengumpulkan pemikiran berbagai pihak, termasuk pemerintah, pakar otomotif, dan masyarakat industri otomotif, dibutuhkan.

IOI juga akan diselaraskan dengan sentral otomotif yang sudah ada sebelumnya dan Sekolah Tinggi Manajemen Industri.
"Kalau dilihat, Thailand sudah lama sekali punya institut otomotif yang memberikan dampak luar biasa. Institusi ini bukan hanya partner kita, melainkan Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan para asosiasi," jelas Syarif. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, mengungkapkan, sesuai dengan UU No 3/2014 dan PP No 14/2015, alat transportasi menjadi salah satu industri prioritas. Oleh sebab itu, sudah selayaknya industri otomotif nasional menjadi mandiri jika dihadapkan pada berbagai tantangan di dunia.

"Industri otomotif jadi industri yang menentukan ekonomi kita. Tapi kita enggak bisa sendiri karena ada bisnis ada tantangannya," tutur Putu. Tantangan itu bisa datang dari lingkungan, liberalisasi, sampai otonomi daerah. Seperti diketahui bersama, Indonesia menargetkan pada 2020 menurunkan emisi 20%. Namun, kemajuan hal itu belum terlihat sampai saat ini. "Sudah ada LCGC, tapi yang mau dikembangkan apa dulu, bodi atau mesin, karena kita baru bisa produksi ban dan pelek. Ini yang butuh kolaborasi kerja sama," imbuhnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya