PRESIDEN Joko Widodo kecewa dengan lambannya perbaikan proses bongkar muat atau dwelling time di pelabuhan. Apalagi, ia tidak mendapat jawaban lugas terkait dengan instansi mana yang masih menghambat proses bongkar muat sehingga belum sesuai target.
"Kita harus terbuka. Saya tanya enggak ada jawabannya, ya saya cari sendiri jawabannya dengan cara saya. Kalau sulit, bisa saja dirjennya saya copot, pelaku di lapangan saya copot, bisa juga menterinya saya copot," kata Jokowi saat meninjau Kantor Pelayanan Terpadu Terminal Penumpang Nusantara Pura Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, kemarin.
Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo, Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby Mamahit, Dirut PT Pelindo II RJ Lino, serta pejabat dari Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Jokowi gusar sebab ia telah bertanya hingga tiga kali perihal penghambat proses arus bongkar muat perdagangan luar negeri, tapi tidak mendapat jawaban. "Jadi, saya jangan diceritakan yang baik-baik. Saya tanya tadi tiga kali hal yang tidak baik, siapa yang paling lambat, instansi mana paling lambat untuk kita perbaiki," katanya.
Ia merasa perlu segera menyelesaikan masalah tersebut karena sudah berpengalaman mengurus hal itu selama 28 tahun ketika menjadi pengusaha. Pun, ketidakefisienan di pelabuhan telah menciptakan potensi kerugian mencapai Rp780 triliun.
Dari laporan yang ia terima, ada proses bongkar muat yang tuntas dalam 1-3 hari. Namun, ada juga yang membutuhkan waktu hingga 20-25 hari. "Itu yang harus diselesaikan. Entah urusan dengan karantina, perdagangan, saya enggak mau tahu," ucapnya.
Jokowi meminta instansi terkait segera memperbaiki dwelling time di pelabuhan, bukan hanya Pelabuhan Tanjung Priok, melainkan juga pelabuhan lain di Tanah Air. Saat ini, berdasarkan laporan Ditjen Bea dan Cukai, rata-rata dwelling time sekitar 5,5 hari. Targetnya 4,7 hari. "Paling tidak 4,7 hari. Tapi 5,5 hari itu kita enggak tahu benar atau tidak. Tidak usah menyamai dwelling time negara-negara tetangga, tapi paling tidak kita bisa mendekatinya," pinta Presiden.
Saat menanggapi ancaman pancopotan jabatan, Indroyono menganggapnya sebagai lecutan untuk bekerja lebih baik. "Itu untuk menyemangati kitalah. Kita harus semangat gitu kan. Kita harus kerja betul," ucapnya. (Wib/E-2)