UNTUK menghindari kelangkaan pasokan di saat puasa dan Lebaran, PT Pertamina (persero) mengizinkan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berutang stok bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji. Kebijakan itu bertujuan memastikan tidak ada alasan kekosongan stok BBM selama arus mudik dan arus balik.
"Bisa mengorder dulu, bayar belakangan. Bentuknya kredit khusus untuk SPBU supaya tidak ada alasan kehabisan uang sehingga tidak berjualan," kata Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, kemarin.
Para pengusaha SPBU bisa langsung memesan pasokan BBM dan elpiji tanpa ada ketentuan khusus. "Tidak perlu mengajukan kredit. Pesan saja, bayarnya belakangan. Kami harap SPBU bisa memanfaatkan fasilitas ini."
Menurutnya, kalaupun tidak mampu berutang, pengusaha SPBU harus melaporkan kondisi tersebut secara pribadi kepada dirinya. "Tidak perlu lapor ke direktur utama. Cukup ke saya. Nanti kita antisipasi," ujar dia.
Pertamina, menurut Bambang, memprediksi konsumsi premium sepanjang H-15 sampai H+15 Lebaran bakal naik 17%. Itu setara 89.817 kiloliter (kl) per hari jika dibandingkan dengan konsumsi harian yang berkisar 76.258 kl/hari.
Konsumsi pertamax juga diprediksi naik 7% jika dibandingkan dengan konsumsi normal 7.000 kl/hari. Kenaikan tertinggi diperkirakan terjadi di Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 48% jika dibandingkan dengan hari biasa. Diperkirakan pula ada lonjakan konsumsi BBM di Bali sekitar 28%, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sebanyak 23%, Sumatra 22%, dan Sulawesi 17%.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami gangguan pasokan BBM jelang arus mudik di antaranya berada di Aceh, Kali-mantan Tengah, dan Madura. Ketersediaan pasokan BBM di wilayah tersebut masih di bawah lima hari.
Sejumlah wilayah yang rawan kehabisan pasokan BBM antara lain Pulau Pisang, Kalimantan Tengah, Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Sintang, Kalimantan Barat.
"Kami akan naikkan stok BBM menjadi 17 hari," tuturnya. (Jay/E-4)