Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana memperbanyak penggunaan konstruksi sarang laba-laba sebagai produk karya anak bangsa untuk jalan-jalan yang kondisi tanahnya ekstrem.
"Kami dari kalangan ahli konstruksi telah diundang Kementerian PUPR dalam forum group discussion (FGD) untuk menyampaikan pendapat ilmiah mengenai konstruksi sarang laba-laba dalam berbagai aplikasi," kata Guru Besar Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Herman Wahyudi seperti dikutip Kantor Berita Antara. Kamis (21/4).
Herman Wahyudi menjelaskan dirinya bersama dengan Dr. Helmy Darjanto ahli sipil dari Universitas Narotama Surabaya telah diminta untuk menyampaikan pendapat ilmiahnya dalam FGD yang diselenggarakan Kementerian PUPR pada 7 April lalu dihadiri sejumlah BUMN Karya dan kalangan ahli.
Dalam pertemuan itu, ungkap Herman, Kementerian PUPR berencana memperbanyak penggunaan konstruksi yang patennya dipegang Katama, terutama pada tanah-tanah ekstrem seperti kondisinya lunak, berawa-rawa, dan sebagainya. Konstruksi itu sebelumnya telah teruji pada jalan di Bojonegoro Jawa Timur dan Dumai Riau.
Herman mengatakan perlakuan konstruksi sarang laba-laba untuk jalan sama dengan pengerasan beton (rigid pavement) lainnya, hanya saja dengan penggunaan sirip-sirip segitiga yang terhubung menyerupai sarang laba-laba pada bagian bawah membuat konstruksi ini lebih kaku.
Ia menjelaskan uji beban statis terhadap jalan di jalan Pantura Bojonegoro, konstruksi tersebut masih mampu mendukung meski kondisi tanah di kawasan tersebut dikenal ekspansif (mengembang di saat hujan dan menyusut di saat kering).
Herman merekomendasikan seperti halnya konstruksi lainnya, aplikasi sarang laba-laba untuk jalan harus satu paket dengan perbaikan tanah. Bahkan, jika kondisinya terlalu ekstrem tidak tertutup tanahnya, diganti dengan yang baru.
"Luasan dan ketinggian sirip sangat berpengaruh terhadap ketahanan konstruksi pada beban di atasnya, sehingga di lapangan dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Kalau beban di atasnya tidak terlalu besar, maka tingginya tidak perlu 50 centimeter, cukup 30 centimeter agar konstruksi ini efisien," katanya.
Lebih jauh, ahli konstruksi Dr Helmy Darjanto mengatakan bahwa jika karya anak bangsa seperti sosrobahu bisa diadopsi di Manila, Filipina, sarang laba-laba juga memiliki potensi yang sama. Untuk itu, riset ilmiah terus dilakukan untuk melihat kekuatannya.
Dia mengatakan karya anak bangsa seperti ini seharusnya dapat difasilitasi dan dipergunakan pada proyek jalan pemerintah, agar ke depannya dapat disebarkan ke luar negeri. Apalagi saat ini memasuki pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), inovasi dan karya-karya bangsa sendiri harus ditonjolkan.
Helmy mengatakan, penggunaan konstruksi sarang laba-laba sudah dikenal sejak lama terutama untuk bangunan bertingkat di daerah gempa, seperti bangunan di Aceh dan Padang saat terjadi gempa besar bangunan yang menggunakan konstruksi ini masih kokoh berdiri.
"Sayangnya, penggunaan konstruksi ini untuk jalan belum meluas. Padahal, kalau melihat penggunaan sarang laba-laba untuk jalan di Dumai (Riau) dan Bojonegoro ternyata mampu memikul beban kendaraan berat di atasnya, padahal tanah di kedua daerah tersebut tergolong tidak stabil," ujarnya.
Konstruksi sarang laba-laba 80% lebih ekonomis jika dibandingkan dengan konstruksi beton lainnya, baik itu penggunaan tenaga kerja maupun material. Saat ini yang dibutuhkan ialah menggandeng mitra untuk "pre-cast" agar pelaksanaan di lapangan lebih cepat.
Konstruksi sarang laba-laba termasuk dalam pondasi dangkal telah mendapat rekomendasi dari berbagai instansi diantaranya Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa (LKPP), Pemkab Simeuleu, Pemkab Solok, Pemprov Sumbar, dan Pemprov Kaltim. (Ant/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved