Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGGINYA tingkat konsumsi BBM di dalam negeri tidak sebanding dengan kapasitas produksi. PT Pertamina (persero) sebagai perusahaan minyak nasional berupaya meningkatkan produksi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Perseroan menargetkan pada 2024 Indonesia terbebas dari importasi BBM. Keniscayaan itu mengacu pada peta jalan (road map) kapasitas kilang, dengan proyeksi BBM mencapai 1,9 juta barel per hari (bph) pada 2023. Kemudian di 2025-2030, kapasitas produksi kilang meningkat menjadi 2,5 juta bph.
"Setidaknya di 2024 kita sudah tidak impor lagi, sudah mandiri, karena di sekitar tahun itu kapasitas kilang-kilang sudah 2,2 juta bph. Bahkan di 2020 kita sudah bisa lancar ekspor solar," ujar Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi saat ditemui di kompleks parlemen, Selasa (19/4) malam.
Pun, target tersebut dapat dicapai dengan beroperasi-nya sejumlah kilang minyak yang masuk refinery development masterplan program (RDMP), new grassroot refinery (GRR), dan exsisting refinery improvement projects. Kilang-kilang itu antara lain RU-IV Cilacap, RDMP RU-V Balikpapan, GRR West 1 Tuban, RDMP RU IV Cilacap, RDMP RU-II Dumai, RDMP RU-VI Balongan, GRR Easrt 1 Bontang, dan GRR West 2 dan East 2.
Saat ini, Pertamina mulai bisa menekan impor BBM 40% untuk premium dan 32% untuk solar lantaran ber-operasinya unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Cilacap dan Kilang Trans-Pacific Petroleum Indonesia (TPPI) di Tuban. "Sekarang kita mengoperasikan kapasitas kilang sekitar 900 ribu barel per hari," ujar Rachmad.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengungkapkan kondisi kilang Pertamina dewasa ini mengalami indeks kompleksitas yang relatif rendah ketimbang kilang-kilang negara tetangga. Bila mengacu ke RDMP, kompleksitas rata-rata kilang Pertamina berkisar di level 4,9.
"Kalau kita lihat Thailand, kompleksitasnya mencapai level 6. Rata-rata Asia itu 5,8 dan global 7,1," papar Dwi.
Kompleksitas yang rendah pada akhirnya menciptakan selisih antara suplai dan kebutuhan. Pada 2015 tingkat konsumsi BBM nasional mencapai 1,5 juta bph dengan kapasitas produksi kilang 850-900 ribu bph. "Kalau kita tidak bangun atau menambah kapasitas kilang, gap akan semakin besar," cetus Dwi.(Tes/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved