Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pariwisata Arif Yahya secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2016 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Rabu (20/4).
Dalam sambutannya, Menteri Arif menegaskan jika hasil yang luar biasa bisa saja didapat dari cara yang tidak biasa. Seperti yang dihasilkan dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakernas) Pariwisata beberapa waktu lalu.
"Apakah cara yang tidak biasa itu harmoninya spirit dan strategic. Oleh karenanya kita sepakat membuat culture di internal yang kita namai win way, seperti jurus untuk mencapai kemenangan. WIN juga berarti Wonderdul Indonesia," papar Arif, di Nusa Dua Rabu (20/4).
Arief memaparkan tiga hal agar pariwisata Indonesia mengungguli negara lain. Pertama adalah spirit atau semangat. Bagi Arif, semangat lebih hebat ketimbang strategi.
Strategi saja tanpa semangat baginya tak cukup. "Spirit membuat kita menjadi hebat," tegas dia.
Ia mengajak semua pihak belajar dari Thailand. Menurut Arif, Thailand sangat hebat dalam hal semangat memenangkan peperangan dalam konteks industri pariwisata. "Mereka hebat sekali. Dari mulai rajanya sampai cleaning service-nya, kalau bicara pariwisata itu hebat," ungkapnya.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soliditas lintas sektor. "Untuk membuat solid, kita juga harus punya common enemy. Kalau tidak, maka musuh kita itu ada. Musuh kita itu bukan kita. Saya bagi dua musuhnya yakni Thailand dan Malaysia. Sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan," jelas Arif.
Selain solid, hal lain yang perlu diperhatikan jika ingin menang dalam persaingan industri pariwisata adalah kecepatan. "Pak Presiden mencanangkan tahun 2016 itu adalah tahun kecepatan. Tiga fokus presiden adalah deregulasi, infrastruktur dan pengembangan bisnis," ujarnya.
Kelemahan bangsa ini menurut Arif adalah terlalu lelet. Bagi dia, dalam konteks persaingan bukan yang besar makan yang kecil.
"Tapi yang cepat makan yang lambat. Malaysia lebih kecil dari Indonesia tapi kita kalah dari mereka. Kita kalah dari Thailand yang lebih kecil. Bahkan kita kalah dari Singapura yang lebih kecil. Kita lambat," sesalnya.
Kendati begitu, Arif mengakui jika lemahnya tingkat kecepatan bersaing Indonesia dengan negara lain lantaran kebijakan pemerintah juga. "Tapi speed itu karena pemerintah, regulasi. Saya juga pebisnis, jadi tahu. Kalau kita mau bersaing, aturan yang mengganggu harus diganti," katanya.
Hal lain yang mesti diperhatikan adalah smart. Menpar menyebut banyak contoh tentang hal tersebut.
"Apa yang dilakukan oleh Malaysia dan Singapura juga Tahailand. Meski mereka musuh kita tapi kita harus tahu. Banyak orang belajar dari kesalahannya sendiri. Tapi mari kita juga belajar dari kesalahan orang lain," ungkap Arief. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved