Kemenpar Ingin Bangun Platform Digital Online Travel

20/4/2016 13:34
Kemenpar Ingin Bangun Platform Digital Online Travel
(Foto istimewa)

ADA banyak oleh-oleh dari perjalanan Menpar Arief Yahya dari Tiongkok kali ini. Dari soal manajemen destinasi, travel and tourism policy, infrastruktur, natural and cultural resourches, environmental sustainability, dan lainnya.

Tapi, ada yang paling menarik dari itu semua yaitu digital online platform, yang merajalela dan menjadi masa depan bisnis tour and travel.
Salah satu yang paling memikat perhatian Menpar Arief adalah saat berkunjung ke markas Ctrip, di Kota Bisnis, Shanghai.

Perusahaan Online Travel (OTA) terbesar di Tiongkok itu memiliki market share hampir 80% dari outbond Tiongkok yang lebih dari 100 juta di tahun 2015 itu. Di awal berdirinya tahun 1999, Ctrip juga travel agent dan travel operator (TA TO) konvensional yang menjual tiket, hotel, pesawat dan paket wisata.

Sekarang, Ctrip yang memiliki jumlah karyawan 19.000 dan 7.000 di antaranya insinyur itu tumbuh menjadi raksasa baru di industri pariwisata Tiongkok. Ctrip bermitra dengan Baidu, mesin pencari atau searching engine, mirip Google yang berbahasa dan bertulisan Mandarin. Baidu eksis di Tiongkok, karena Google membentur Tembok Tiongkok dan tidak boleh beroperasi di sana.

Menpar menyebut digital online itu dengan istilah LBP (Look, Book, Pay) sistem pencarian, sistem pemesanan dan system pembayaran.

“Awalnya mereka menjaring publik melalui online yag mencari info paket wisata dan destinasi. Baidu menyediakan ribuan data dan alternatif yang dibutuhkan pelanggan. Proses searching inilah yang saya sebut look,” kata Arief Yahya.

Tentu, cara digital yang akan ditempuh Arief Yahya ini akan berdampak pada industri yang bersikukuh dengan gaya lamanya. Orang mau berwisata harus datang, lalu transaksi di sana. Cara konvensional ini cepat atau lambat akan ditinggalkan, karena tidak bisa bersaing lagi.

"Sama dengan dulu ketika memimpin PT Telkom, harus menghapus wartel dan warnet yang jumlahnya sudah 120 ribu outlet di seluruh Indonesia. Sama suasananya. Coba sekarang, cari warnet kalau masih laku?” ungkap Arief Yahya. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya