Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKIPUN Bank Indonesia sudah mengubah suku bunga acuannya dari BI rate menjadi BI 7-days (reverse) repo rate, suku bunga penjaminan simpanan bergeming.
Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengaku belum ada rencana perubahan setelah ada kebijakan baru bank sentral tersebut. Sebab, perubahan kebijakan suku bunga BI bagi LPS bukan menjadi indikator utama untuk mengubah suku bunga pinjaman. Itu dikatakan Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho saat dihubungi Media Indonesia, kemarin (Minggu, 17/4). "Kami belum ada wacana untuk mengubahnya."
LPS, imbuh Samsu, tidak menjadikan perubahan ke BI 7-days repo rate sebagai acuan untuk perubahan suku bunga penjaminan. Pasalnya, suku bunga penjaminan simpanan (LPS rate) lebih merupakan refleksi dari suku bunga pasar simpanan. "Kami akan terus memantau suku bunga pasar untuk simpanan. Kalau ada perubahan signifikan, biasanya LPS rate juga akan berubah," jelas Samsu.
Saat ini, LPS rate untuk simpanan rupiah di bank umum sebesar 7,25%. Biasanya, bank memberi suku bunga resmi deposito (counter rate) di bawah LPS rate. Sebab, simpanan dengan suku bunga di atas LPS rate tidak dijamin LPS.
BI pekan lalu mengumumkan perubahan kebijakan suku bunga acuan menjadi BI 7-days repo rate dengan harapan memperkecil gapnya dengan realitas pasar, yang diindikasikan oleh suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) overnight.
Kebijakan itu dibarengi dengan perubahan koridor atas dan bawah untuk standing facility serta deposit facility BI menjadi masing-masing 75 basis poin dari BI 7-days repo rate yang saat ini 5,5%.
Harapannya, itu akan memengaruhi struktur suku bunga di PUAB dan kemudian berimpak kepada suku bunga deposito bank yang juga jadi salah satu unsur pembentuk suku bunga kredit.
Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pihaknya terus mengupayakan agar suku bunga deposito termahal bank (special rate) dapat selaras dengan kebijakan suku bunga acuan baru BI atau paling tidak LPS rate.
"Memang perlu upaya bersama untuk jaga likuiditas di pasar supaya secara gradual deposito termahal bisa turun seiring dengan LPS rate."

Sementara itu, Survei Perbankan BI mencatat adanya perlambatan pertumbuhan kredit pada kuartal I lalu. Pertumbuhan kredit modal kerja umpama, lajunya turun ke 26,7% dari kuartal sebelumnya 42,8%. Menurut Dirut BRI Asmawi Syam, deselerasi pertumbuhan kredit pada kuartal I ialah tren biasa.
"Memang kalau dari Januari, year to date tumbuhnya enggak tinggi, enggak sampai 1%, tapi kalau year on year kita tumbuh 18%, memang fenomena seperti itu."
Lebih lanjut, survei BI memperlihatkan optimisme bagi pertumbuhan kredit kuartal II. Diperkirakan kredit baru akan tumbuh 31,3% dari kuartal lalu. Itu antara lain didorong oleh suku bunga kredit yang turun.
Positif
Perubahan suku bunga acuan, disebut anggota Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Pengawasan Pasar Modal, Nurhaida, berimpak positif bagi pasar modal.
Jika kebijakan BI itu berdampak pada penurunan bunga ,investor akan memilih untuk membeli obligasi atau saham yang <>return-nya lebih tinggi. "Mereka tentu akan memilih ke tempat yang lebih bagus serta kesesuaian dengan target investasi mereka," katanya dalam diskusi di Bandung, kemarin. (Ire/Ten/Ant/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved