Pertamina Siap Ambil Alih Blok Migas Segera Habis Kontrak

Tesa Oktiana Surbakti
13/4/2016 21:38
Pertamina Siap Ambil Alih Blok Migas Segera Habis Kontrak
(ANTARA)

DALAM 10 tahun terakhir atau hingga 2025, sedikitnya ada 35 blok minyak dan gas (migas) yang akan habis kontrak (production sharing contract). Sebagai perusahaan migas nasional, PT Pertamina (persero) mendapat prioritas untuk mengambil alih blok migas tersebut. Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan peranan perusahaan pelat merah dalam mengelola ladang migas di Tanah Air.

Direktur Utama Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan pihaknya masih terus mengevaluasi beberapa blok potensial yang sesuai dengan portofolio perusahaan. Dari delapan blok yang akan habis masa kontraknya di 2017 dan 2018, pihaknya menaruh atensi lebih besar pada dua blok, yakni Blok Sanga-Sanga dan Blok East Kalimantan (EKAL). Adapun Blok Sanga-Sanga yang berlokasi di Sumatra Selatan dioperatori Vico Indonesia, adapun Blok EKAL di Kalimantan Timur selama ini dikelola Chevron Indonesia Company.

"Blok yang mau expired masih kita evaluasi beberapa yang mungkin cocok dengan portofolio. Saat ini kita lebih review lagi yang Sanga-Sanga dan Ekal, sudah tahap evaluasi secara keseluruhan,” ujar Syamsu saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (13/4).

Sebelum melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dua blok tersebut, pihaknya telah melihat potensi dari ruang data masing-masing blok. Terkait penjelajahan terhadap blok lain, misal Blok Attaka, di Kalimantan Timur, Pertamina masih terus mengkaji potensi blok yang habis kontrak pada 2017 mendatang.

“Aset yang dekat situ (Blok Attaka) masih kita lihat. Bagaimana nanti integrasi operasionalnya. Belum tahu persis ya kelanjutannya, karena saya sudah tanda tangan baru dua blok tadi itu. Mungkin bisa tanya internal lain yang sedang mengkaji,” pungkasnya.

Dalam rangka mengambil alih blok migas, setidaknya Pertamina mengacu pada tiga aspek sebagai pertimbangan, yakni dari sisi jumlah cadangan migas terbukti, maupun prospek ke depan.

Kemudian yang kedua perihal potensi integrasi lapangan Pertamina dengan pola operasi migas blok tersebut. Dan tidak kalah penting mengenai aspek keuangan perusahaan, tentunya Pertamina berharap blok yang diambil alih memberikan kontribusi finansial.

Terkait integrasi dengan perusahaan migas lain, Syamsu turut menyinggung pengelolaan Blok Tuban. Wilayah kerja yang dikelola dengan skema joint operating body (JOB) antara Pertamina dan Petrochina East Java itu baru akan berakhir pada 2018.

Menurutnya ada sejumlah blok dengan skema JOB yang akan habis kontrak dalam waktu dekat, seperti Blok Ogan Komering yang dikelola JOB Pertamina-Talisman dan Blok Pendopo dan Raja yang dikelola JOB Pertamina-Golden Spike Energy. Kendati demikian, pihaknya masih menunggu keputusan pemerintah terkait pengelolaan blok tersebut, lantaran skema badan usaha pengelolaannya berbeda dengan production sharing contract (PSC).

"Kita lagi evaluasi juga karena skema pengelolaan JOB kan berbeda dengan PSC. Maksudnya bentuk badan usahanya JOB, pemerintah mau seperti apa perlakuannya," tandas dia. (Tes/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya