BPS Prediksi Inflasi April Rendah

Irene Harty
01/4/2016 17:55
BPS Prediksi Inflasi April Rendah
(ANTARA)

BADAN Pusat Statistik memprediksi inflasi pada April ini akan rendah. Salah satu faktornya berasal dari penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal bulan.

Namun, menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, harga minyak dunia masih akan terus dipantau pemerintah. "Semoga harga BBM bisa stabil. Kalau itu stabil, pasti inflasi stabil juga," ungkapnya di Kantor Pusat Statistik, Jakarta, Jumat (1/4).

Jika harga BBM benar-benar turun signifkan, inflasi akan benar-benar terpengaruh. Harga BBM memiliki bobot 3,61% dengan 3,2% berasal dari harga premium.

Penurunan harga BBM juga dinilai tidak serta merta menurunkan tarif angkutan umum. Sasmito belum melihat waktu pasti realisasi penurunan harga BBM pada bulan ini dan dia memperkirakan turunnya tarif angkutan umum baru terjadi pada bulan-bulan berikutnya.

Adapun untuk penurunan tarif dasar listrik (TDL), dia mengatakan pada bulan ini akan berdampak juga ke inflasi seperti pada Maret lalu. Kemungkinan deflasi, lanjut Sasmito, masih ada dengan syarat bawang merah dan cabai merah mengalami penurunan harga.

"Kalau sampai minggu ini, bawang dan cabai bisa turun harganya, maka bisa deflasi juga April," lanjutnya.
Meski memiliki andil yang kecil, bawang dan cabai dapat memengaruhi inflasi karena fluktuasi harga bisa sangat tajam yakni di kisaran 30%-32%.

Berbanding terbalik dengan TDL dan beras yang juga berpengaruh besar meski mengalami perubahan harga 1%-2% karena bobot penyumbang inflasi yang besar.

Sepanjang tahun ini, inflasi rendah juga mungkin terjadi di September dan Oktober. Pada Mei terlihat masih akan moderat dan puncak inflasi akan terjadi di bulan Juni.

Selain pengaruh dari bahan pangan, inflasi bulan depan akan dipengaruhi oleh harga emas internasional yang masih naik terus. "Di tengah situasi yang tidak pasti di berbagai belahan dunia sepertinya emas masih jadi investasi yang menarik untuk menjaga cashflow," lanjutnya.

Komoditas lain seperti minyak goreng juga perlu dilihat harganya karena harga ekspor kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) turun tapi harga minyak goreng dalam negeri naik.

Mengenai harga beras yang menjadi penyebab deflasi, Kepala BPS Suryamin mengungkapkan akan diatasi dengan adanya tol laut. Dengan adanya enam tol laut, distribusi dari sentra produksi ke berbagai daerah yang membutuhkan bisa terkendali dan mungkin membuat harga turun.

Tol laut yang sudah beroperasi di antaranya Tanjung Priok-Natuna, Tanjung Perak-Merauke, Tanjung Perak-Waingapu, dan Tanjung Perak-Timika. Sedangkan tol laut yang belum selesai ialah jalur Tanjung Priok-Biak dan Makassar-Ternate-Bacan. "Pengaruh dari tol laut, barang yang diangkut kapal naik 9% sepanjang Januari-Februari dibanding 2015, dan dapat mengendalikan inflasi Indonesia bagian timur," tandas Suryamin. (Ire/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya