Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI otomotif nasional bakal bangkit dalam lima tahun ke depan. Hal itu disebutkan Global Automotive Sector Leader Ipsos, Markus Sherer, dalam acara Ipsos Indonesia's Automotive Outlook 2020 di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (31/3).
"Dengan proyeksi GDP mencapai US$1,3 triliun pada 2020, dan semakin banyaknya penduduk urban akan mengendalikan pertumbuhan yang lebih seimbang dan menyediakan kesempatan-kesempatan baru," ungkapnya.
Baginya, Indonesia yang terus meningkatkan produksi kendaraan, perkembangan kebijakan, dan perbaikan infrastruktur akan lebih mendorong konsumsi dan volume ekspor sekaligus.
Bahkan dia memprediksi Indonesia secara perlahan akan menggantikan Thailand sebagai pusat produksi otomotif utama di ASEAN. Tercatat untuk kendaraan penumpang Indonesia akan bertumbuh sekitar 6,8% sampai 2020, sepeda motor 4,8%, truk 3,5%, dan bis 1,9%.
"Untuk segmen PV, LCGC akan mengalami pertumbuhan tercepat yakni 8,1% sampai 2020, truk jenis Gasoline Light Duty Truck (GLDT) akan bertumbuh tercepat 4,6%, dan bis jenis Medium Duty Bus (MDB) akan tumbuh tercepat 3,2% sampai 2020 juga," jelas Marcus. Hal itu, tambahnya, didorong juga oleh investasi asing yang kian tumbuh 9,5% sejak 2011-2015.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Noergadjito, mengungkapkan kapasitas produksi industri otomotif Indonesia sejak 2014 sudah mencapai 1,9 juta unit lebih. Jumlah itu meningkat dengan adanya investasi baru 630 ribu unit dari kapasitas 2012 sebesar 1,3 juta unit.
Namun, untuk produksi mengalami penurunan 15,4% dari periode 2014 ke 2015 atau dari 1,3 juta unit menjadi 1,1 juta unit per tahun. Padahal, pada periode 2013-2014 produksi meningkat 7,6%.
"Januari (2016) ini kita baru produksi 181.342 unit," katanya. Adapun untuk penjualan domestik, kata dia, terjadi penurunan sebesar 16,1% dari 2014 ke 2015 atau dari 1,2 juta unit menjadi 1 juta unit dengan posisi Januari-Februari 2016 baru mengekspor 173.262 unit.
Ekspor pun masih tergolong kecil yakni 386 ribu unit untuk mobil dan 47 ribu unit untuk motor sampai 2015. Noergadjito sendiri memiliki proyeksi hingga 2020, Indonesia akan mampu berproduksi mobil hingga 2,6 juta unit dengan ekspor 622 ribu unit dan penjualan mencapai 1,97 juta unit.
Lalu untuk motor pada 2020 akan mampu berproduksi sampai 7,57 juta unit lebih tinggi ketimbang 2015 yakni 7 juta unit dengan ekspor mencapai 75.748 unit pada 2020 ketimbang 2015 sejumlah 70.314 unit. "Penjualan kita targetkan sampai 7,5 juta unit lebih banyak dari 2015 6,98 juta unit motor," tambahnya.
Indonesia masih akan terus mengikuti peta jalan industri otomotif yang sejak 2015 fokus pada produksi sedan dan SUV ekonomis dan kecil serta MPV dan truk komersial berkapasitas sampai 24 ton. Lalu pada 2020 akan fokus ke produksi 80% kendaraan bermotor roda empat jenis sedan dan SUV, truk dengan kapasitas lebih dari 24 ton, sedan menengah, dan mobil hibrida.
Pemerintah pun dinilai perlu untuk memberi insentif lebih agar industri otomotif dapat bergerak sesuai rencana. "Seperti untuk LCE (Low Carbon Emission) draft insentif sudah ada tapi belum di teken padahal sudah banyak pemain yang siap meskipun harganya lebuh mahal dari konvensional dan hybrid," ungkapnya.
Insentif itu berupa konsumsi bahan bakar mencapai 20-28 km per litar akan mendapat potongan pajak 75% dari harga jual sedangkan bila lebih besar dari 28 km per liter akan mendapat potongan pajak 50% dari harga jual. Lalu untuk penggunaan bahan bakar 20 km per liter akan dibebaspajakkan.
Dalam pandangan Noerdjito, Indonesia memang dapat mengalahkan Thailand bila kapasitas produksi terpasang dapat digunakan optimal. "Semua tergantung market demand, kalau semua stabil dari kurs, BI rate, pertumbuhan ekonomi maka akan naik. Minimum itu 1,5 sampai 2 kali dari GDP, untuk volume," jelasnya.
Kepala Sub Direktorat Jenderal Industri Kendaraan Roda Empat atau Lebih Kementerian Perindustrian, Afrida Suston Niar, mengatakan insentif terkait pajak menjadi kewenangan Kementerian Keuangan.
Sesuai Peraturan Pemerintah No18/2015 ada pengurangan pajak penghasilan perusahaan selama enam tahun yakni 5% setiap tahunnya lalu sesuai PMK No.176/PMK.011/2009 untuk mesin, barang, dan bahan untuk produksi dikenakan pembebasan bea masuk dua tahun atau empat tahun untuk perusahaan yang menggunakan mesin produksi dalam negeri minimal 30%.
Pihaknya hanya mengusulkan untuk memberi tarif bea masuk komponen otomotif 0% untuk bahan baku dan barang pembuatan komponen otomotif seperti baja yang sudah berlaku sejak 2008. "Saat ini bea masuk untuk komponen sedan masih 7,5% dan truk juga bis 2,5%," tandasnya. (Ire/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved