Respons Bank dalam Menyesuaikan Suku Bunga Lamban

Fathia Nurul Haq
19/3/2016 10:40
Respons Bank dalam Menyesuaikan Suku Bunga Lamban
(Antara)

GUBERNUR Bank Indonesia Agus Martowardojo mengingatkan relaksasi kebijakan moneter lewat pelonggaran suku bunga acuan (BI rate) dan giro wajib minimum sudah dilakukan dalam tiga bulan terakhir. Namun, perbankan relatif lamban mengikuti langkah bank sentral.

"Kita lihat sampai kemarin (Kamis, 17/3), penyesuaian bunga dari perbankan baru turun 7 basis poin (bps). (bunga) Kredit baru turun 5 bps," ujar Agus di Kantor Pusat BI, Jakarta, kemarin (Jumat, 18/3).

Menurutnya, pihak perbankan mengaku perlu waktu untuk penyesuaian. Transmisi kebijakan suku bunga BI memang biasanya berlanjut ke suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan, kemudian ke suku bunga dana pihak ketiga (DPK) bank, baru suku bunga kredit bank.

Eks Dirut Bank Mandiri itu mengemukakan penetapan tingkat bunga kredit seyogianya bukan semata dengan suku bunga (biaya) dana. Efisiensi pengelolaan dana, menurutnya, bisa disegerakan tanpa harus menanti DPK berbunga tinggi jatuh tempo. Proses transmisi tersebut akan terus menjadi fokus perhatian BI agar suku bunga kredit bank bisa lekas turun.

Seperti diberitakan Media Indonesia (Jumat, 18/3), bank sentral baru saja memangkas kembali suku bunganya 25 bps menjadi 6,75%. Pemangkasan itu merupakan kali ketiga sejak Januari 2016 dan totalnya mencapai 75 bps. Walakin, dalam tempo sama, rata-rata suku bunga kredit bank masih bertahan di level dua digit.

Indonesia Property Watch (IPW) menilai penurunan BI rate belum berdampak signifikan di sektor pembiayaan properti. Menurut Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda, belum banyak bank yang menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). "Kalau penurunan suku bunga KPR sejalan dengan relaksasi kebijakan sektor perumahan, dampaknya akan luar biasa," ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengamini pula lambannya respons penurunan suku bunga di level perbankan. "Karena biaya dana mereka campur-campur. Mereka juga mengacu ke (tingkat bunga) lending facility BI dan SBI (Sertifikat BI)," ucap Hariyadi.

Tidak berputar
Ia berpendapat, adanya SBI dan juga instrumen surat utang negara membuat sebagian bank tidak memutar likuiditas mereka ke sektor riil dalam bentuk kredit.

"Duit itu enggak mutar di sektor riil. Saat ini indikasi uang beredar (M2) terhadap PDB (produk domestik bruto) hanya 40%, padahal teorinya M2 atau uang kuasi minimal sama atau lebih besar daripada PDB."

M2 mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valas, dan surat berharga terbitan sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.

Direktur Consumer Banking Bank Mandiri Hery Gunardi mengaku pihaknya butuh waktu untuk menghitung tingkat suku bunga yang bisa direduksi. Ia membenarkan, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah biaya dana, terutama deposito.

"Deposito kan tidak langsung, ada tenor 1-3 bulan. Mungkin 2-3 bulan ke depan akan ada review," jelasnya. Menurut dia, pihaknya sedang berupaya meningkatkan porsi dana murah menjadi 65%-67% dari total DPK agar dapat mengeksekusi penurunan bunga kredit. (Ire/Ant/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya