PLN NTT Temukan Cadangan Panas Bumi Baru

PO/Pol/Ant/N-2
07/3/2016 03:45
PLN NTT Temukan Cadangan Panas Bumi Baru
(ANTARA/M Agung Rajasa)

PT PLN (Persero) wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menemukan cadangan tak terduga 63 megawatt (Mw) di sekitar sumur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Kabupaten Ngada, NTT.

Temuan itu akan memperbesar kapasitas terpasang PLTP Mataloko dari 1x2,5 Mw menjadi 2x10 Mw.

"PLN akan mengembangkan PLTP Mataloko dan ditargetkan beroperasi pada 2019," kata General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, lewat siaran pers yang diterima di Kupang, kemarin.

Saat ini beban puncak pada malam hari di Sistem Ngada sebesar 5,5 Mw disuplai dari dua pembangkit, yakni PLTP Mataloko dan PLTD Faobata di Ngada.

Dia menambahkan PLN melalui UIP XI UPK 3 tengah membangun gardu induk dan transmisi 150 kV dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sampai Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Transmisi yang ada ialah 70 kV dari PLTU Ropa menuju Ende dan PLTU Ropa menuju Maumere.

Di Kabupaten Ngada ada 50 menara yang sedang dikerjakan.

"Pengembangan PLTU Mataloko sebagai bagian dari program 35 ribu Mw," kata dia.

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, saat di Bandung, mengatakan PT Pertamina bersiap membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam lima tahun dengan belanja modal US$2 miliar.

Belanja modal itu, kata Dwi, dilakukan untuk membangun fasilitas pembangkit tenaga surya dengan kapasitas 1.000 Mw.

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN, Nicke Widyawati, mengaku PLN mendukung penguatan penggunaan energi terbarukan dan konservasi energi.

Bahkan, PLN menjalani dua rencana aksi besar terkait energi terbarukan.

Yang pertama, mengakomodasi rencana pencapaian listrik dari energi terbarukan sebesar 25% pada 2025.

Kedua, PLN sudah memiliki enam perusahaan yang bergerak di bidang EBT dan akan difungsikan sebagai agregator yang akan membeli seluruh listrik dari energi terbarukan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pembangkit listrik berbasis sampah dapat memberikan dua manfaat sekaligus, dari sisi ekonomi dan lingkungan.

Secara ekonomi, kata pria yang kerap disapa JK itu, listrik berbasis sampah dapat bersaing dengan listrik biasa.

"Listrik dari sampah nilanya kira-kira 15 sen AS per kWh, berarti dua kali daripada PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). Namun, kalau dibandingkan dengan diesel, nilainya setengah dari diesel. Jadi, masih bisa hemat," jelasnya.

Selain itu, dari segi lingkungan, pembangkit listrik dari sampah dapat mengurangi keberadaan sampah.

Sebagai contoh, di Jakarta, ada total sampah sebanyak 6.000 ton per hari yang dapat menghasilkan tenaga listrik sekitar 50 Mw.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya