Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGIAN besar warga masyarakat Indonesia masih memiliki kesenjangan persepsi antara kesehatan dan gaya hidup. Karena itu, mereka perlu diberi informasi akurat agar dapat menjalani hidup secara sehat.
Demikian hasil survei daring sebuah perusahaan asuransi global tahun lalu terhadap 1.000 responden di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, Solo, Balikpapan, dan Bandar Lampung. Survei mencakup lima indikator, yakni fisik, sosial, keluarga, keuangan, dan pekerjaan.
"Kepada responden diajukan sejumlah pertanyaan tentang kesehatan dan kesejahteraan. Tujuannya untuk menilai pemahaman dan persepsi mereka tentang mitos versus fakta seputar kesehatan," kata CEO & President Director Cigna Indonesia Tim Shields di Jakarta, Senin (29/2).
Menurut Shields, ada sejumlah mitos yang dipercayai oleh sebagian besar penduduk Indonesia seputar kanker, kegemukan, stres, dan penuaan. Contoh beberapa mitos yang dipercaya masyarakat Indonesia yakni, 85% orang percaya bahwa tinggal di kota berpolusi menyebabkan kanker paru-paru. Lalu, 84% percaya meminum air mineral dari botol yang disimpan di mobil dalam waktu lama menyebabkan kanker karena lepasnya reaksi kimia.
Di samping itu, lanjut Shields, 68% orang Indonesia percaya memakai deodoran, antiperspirants, dan pewarna rambut menyebabkan kanker. Lalu, 54% percaya memakan sayuran hangus bisa menyebabkan kanker.
Mitos lain yang dipercaya yakni, 95% responden Indonesia percaya makan buah berlebihan baik. Lalu sebanyak 86% percaya semua makanan berlemak mengakibatkan naiknya berat badan. Selain itu, 76% percaya bahwa berolahraga reguler lima kali seminggu lebih dari 30 menit dapat mengurangi bobot tubuh.
"Hasil survei menunjukkan adanya miskonsepsi di masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki keinginan hidup sehat tetapi kurang memiliki pengetahuan tentang gaya hidup sehat tersebut. Ini membantu kami menyesuaikan solusi kesehatan dan perlindungan," ujar Shields.
Adapun mitos tentang stres yang banyak dipercaya orang Indonesia, yakni 82% percaya bahwa stres menyebabkan usus buntu, 72% percaya stres berhubungan dengan penyakit psikosomatik, lalu 76% percaya bahwa stres menyebabkan rambut beruban. Mitos lain yang dipercaya, 84% percaya bahwa dukungan secara sosial, lebih baik untuk memiliki banyak teman, meskipun jika mereka jauh secara emosional.
Sementara itu, kata Shields, sejumlah mitos terkait penuaan menunjukkan 90% responden Indonesia percaya ketika orang bertambah tua kemerosotan mental dan fisik tidak terhindarkan. Lalu 87% percaya bahwa pelupa merupakan indikasi dari demensia, dan 67% percaya bahwa orang yang menua terkena demensia.
Hasil survei yang dilaporkan pada skor index of belief atau indeks kepercayaan, menurut Shields, Indonesia berada di peringkat terbawah di dengan nilai rata-rata 53,2. Lebih rendah dibandingan negara Asia Pasifik lain seperti Korea Selatan (56,4), Tiongkok (51,0), dan Selandia Baru (62,4).
Survei itu menyoroti pula naiknya kesadaran orang Indonesia tentang perlunya asuransi pemerintah lewat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Lebih dari 70% responden kini terbuka untuk membeli asuransi dan 83% responden di luar Jakarta melihat perlunya mereka dilindungi dengan asuransi. Naiknya biaya hidup dan kesehatan di Indonesia menjadi kekhawatiran penduduk di rentang usia 30-40 tahun.
Shields menambahkan hasil survei menunjukkan negara-negara dengan ekonomi berkembang seperti India, Tiongkok, dan Indonesia berada di tiga besar peringkat negara berdasarkan kesehatan dan kesejahteraan. Sedangkan negara dengan tingkat perkembangan ekonomi lebih tinggi seperti Hong Kong dan Korea Selatan berada lebih rendah dengan Taiwan menduduki peringkat paling bawah.
Biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar diikuti dengan ekonomi, biaya kesehatan, dan keamanan makanan. Selandia Baru dan Thailand sangat peduli pada mahalnya biaya hidup ketimbang negara lain. Sedangkan responden Selandia Baru, India, dan Indonesia berpendapat kenaikan biaya kesehatan menjadi kekhawatiran terbesar. Orang Tiongkok, Taiwan, dan India lebih mencemaskan keamanan makanan ketimbang negara lain.
"Kesehatan finansial dan kesejahteraan merupakan kekhawatiran terbesar. Hanya 24% responden puas dengan keuangannya saat ini. Sementara mayoritas menyatakan tidak puas dengan keamanan finansial atau merasa memiliki dana pensiun yang cukup," ungkap Shields.
Terakhir Shields menyebutkan orang India, Taiwan, dan Tiongkok sangat khawatir dengan keamanan finansial mereka. Sebaliknya orang Inggris, Turki, dan Indonesia tidak terlalu mengkhawatirkan keamanan finansial mereka. "Ini persoalan sosial, ekonomi, dan budaya yang memengaruhi kami maupun nasabah kami setiap hari," jelasnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved