OJK Giatkan Kembali Kampanye Keuangan Syariah

Irene Harty
25/2/2016 21:07
OJK Giatkan Kembali Kampanye Keuangan Syariah
(MI/ Abdus Syukur)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan kinerja industri keuangan syariah terutama perbankan syariah masih rendah dengan market share baru 4,87% sampai akhir 2015. Pangsa pasar itu tidak memenuhi target 5% seperti yang dicanangkan OJk tahun lalu dan menurun ketimbang 2014 yang mencapai 4,89%.

Oleh sebab itu OJK akan melakukan sosialisasi berbagai program dan produk syariah di berbagai kota di Indonesia seperti pameran, training of trainers, dan pelatihan ke elemen masyarakat. Program-program itu akan dilakukan dalam Keuangan Syariah Fair 2016 yanga akan dibuka di Mall Gandaria City, Jakarta dari tanggal 3 Maret sampai 6 Maret 2016.

Pembukaan Keuangan Syariah Fair itu akan diikuti oleh 36 perusahaan keuangan syariah yakni 16 perbankan syariah, 10 industri pasar modal syariah, 10 IKNB syariah. Launching buku standar produk perbankan syariah, working group SiKOMPAK Syariah, soft launching kerja sama OJK dengan akademisi, dan sebagainya menjadi rangkaian kegiatan pembukaan fair tersebut.

"Selama ini produk dan layanan syariah belum sebagus dan selengkap bank konvensional sehingga kita memiliki strategi bisnis lewat pameran bisa menunjukkan pelayanan dan produk keuangan syariah sama bagusnya, sama lengkapnya, dan sama modernnya dengan bank konvensional," jelas Dewan Komisioner Pengawas Perbankan OJK, Mulya Siregar, Kamis (25/2).

Pangsa pasar yang masih rendah menurut Mulya bisa diatasi dengan pendirian lembaga Komisi Nasional Syariah oleh pemerintah. Hal itu sama seperti Malaysia yang sudah memulai penggiatan keuangan syariah sejak 1983 yang sekarang sudah memiliki market share perbankan syariah 20%.

Industri keuangan syariah Indoensia akan lebih baik jika bisa meniru skema top down dikombinasikan dengan bottom up untuk mendapat market share lebih tinggi.

Kepala Departemen Perbankan Syariah Ahmad Buchori mengemukakan masyarakat Indonesia lebih memilih bank-bank dengan keuntungan yang lebih besar ketimbang menerapkan konsep syariah dalam manajemen keuangannya. "Kalau syariah enggak bagus ngapain ke syariah, servisnya enggak bagus, ATM sulit, mau bayar ini itu enggak bisa," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya