Belum Ada Putusan Soal Blok Masela

Rudy Polycarpus
23/2/2016 20:15
Belum Ada Putusan Soal Blok Masela
(Istimewa)

STAF Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi SP menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo belum mengambil keputusan terkait pengelolaan Blok Masela. Keputusan itu menyangkut pemilihan model pengolahan gas, yaitu di lepas pantai (offshore) atau di daratan (onshore).

Johan mengatakan Presiden sedang mengkaji proyek yang memiliki skala dan kompleksitas besar. Presiden juga mempertimbangkan berbagai aspek, tidak hanya komersial dan teknis tapi juga sosial, budaya, ekonomi, dan pengembangan kawasan setempat.

"Sampai saat ini Presiden Jokowi belum memutuskan metode pembangunan Blok Masela apakah off shore atau on shore," ujar Johan, Selasa (23/2).

Pernyataan Johan itu diungkapkan untuk menepis pernyataan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengenai pengembangan gas di Blok Masela. Senin (22/2) Rizal menerbitkan siaran pers yang menjelaskan bahwa pemerintah akan mengembangkan lapangan abadi Blok Masela dengan skenario pembangunan kilang liquefied natural gas (LNG) di darat (on shore). Menurut Rizal, keputusan ini diambil setelah dilakukan pembahasan secara menyeluruh dan hati-hati serta memperhatikan masukan dari banyak pihak.

Lebih jauh, Johan Budi menuturkan, pertimbangan mengenai pengelolaan Blok Masela akan mencakup aspek komersial, teknis, aspek sosial, kultur, ekonomi, sampai dengan pengembangan kawasan setempat. Perhatian utama Presiden, kata Johan, adalah bagaimana masyarakat Maluku dan negara memperoleh manfaat secara maksimal.

"Mengingat besarnya skala dan kompleksitas proyek gas blok Masela, keputusan harus dibuat dengan sangat hati-hati," tandasnya.

Terkait itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan, ada perbedaan pendapat yang sangat tajam mengenai Blok Masela yang dibangun secara offshore atau onshore. Tetapi, Presiden menganggap perbedaan pendapat itu berguna untuk memperkaya pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Menurut Pramono, Blok Masela nantinya akan menjadi salah satu blok migas terbesar di dunia. Karena itu, pemerintah ingin sangat berhati-hati saat memutuskan pembangunannya.

"Karena masih ada perbedaan yang sangat tajam, tetapi hal ini sangat memperkaya presiden dalam mengambil keputusan. Maka presiden memutuskan untuk tidak diputuskan hari ini," ujar Pramono.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan Presiden Jokowi akan meminta klarifikasi kepada Rizal Ramli. "Presiden selalu, kalau ada perbedaan pendapat, pasti meminta klarifikasi. Kami harus tetap konsisten," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya