Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPUTUSAN Bank Indonensia (BI) memangkas giro wajib minimum (GWM) primer ke posisi 6,5 persen menyusul keputusan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin ke posisi 7 persen, dinilai akan meningkatkan likuiditas perbankan. Keputusan itu akan membuat perbankan lebih leluasa menyalurkan kredit sehingga akan berdampak langsung terhadap akselerasi pertumbuhan.
"Kalau soal likuiditas, penurunan GWM yang paling besar dampaknya. Kalau GWM diturunkan, artinya bank mengurangi kewajiban menaruh uang di BI. Uuang itu bisa dipakai bank untuk salurkan kredit ,”ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Minggu (21/2).
Menurut Darmin, penurunan suku bunga acuan perbankan pada dasarnya juga akan mendorong peningkatan likuiditas. "Walaupun masih harus kita lihat berapa pengaruhnya ke bunga deposito dan berapa pengaruhnya ke lending rate, baru nanti diketahui likuiditasnya naik berapa,” kata Darmin.
Keberlanjutan pelonggaran moneter tersebut kian membangun optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016. Dalam asumsi makro APBN 2016 pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan 5,3 persen.
"Perkiraan BI terhadap pertumbuhan kita jadinya naik kan. BI mulai bikin mulai dari range-nya 5,2 sampai 5,6 persen, tapi titik tengahnya keliatan antara 5,3-5,4 persen,” ujar dia.
Pemerintah menginisiasi langkah kebijakan untuk memastikan tingkat bunga perbankan rendah. Tingkat bunga yang rendah dipercaya dapat membuat perbankan semakin kompetitif dalam menyalurkan kredit, terutama bila pemerintah benar benar memperketat penataan marjin bunga bersih (net interest margin) perbankan.
Darmin mengungkapkan pemerintah akan menetapkan batas atas tingkat bunga deposit bank BUMN. “Ini aturan internal bahwa taruh uang di bank ya bunganya depositnya segini, ga boleh lebih. Jadi memang nanti ada batas atasnya,” ujar dia.
Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengungkapkan selisih BI rate dan laju inflasi saat ini masih cukup jauh. Sehingga peluang bagi bank sentral melanjutkan pelonggaran moneter masih terbuka lebar.
"Sudah saatnya Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang proaktif meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Perbedaan BI rate dan laju inflasi masih relatif tinggi," ujar Faisal. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved