Pendapatan Bank Syariah Mandiri Tumbuh 10%

Fathia Nurul Haq
15/2/2016 23:13
Pendapatan Bank Syariah Mandiri Tumbuh 10%
(ANTARA/Sigid Kurniawan)

BANK Syariah Mandiri mencatat pertumbuhan laba bersih 10% pada 2015. Meski dikatakan tahun paceklik, BSM mengaku tahun lalu merupakan tahun terbaik.

"Jadi net pendapatan bersih 2015 Rp4,38 triliun atau tumbuh 10%. Biaya over head Rp2,9 triliun, tumbuh 3%. Hitung saja, tumbuh labanya lebih pesat," jelas Direktur Finance And Strategy BSM Agus Handaya, Senin (15/2).

Pertumbuhan itu menurut Agus didorong oleh pembiayaan yang surplus. Padahal tahun sebelumnya BSM sektor ini tumbuh negatif.

"Yang mendrive pertama pembiayaan kita, pada 2014 kita minus Rp1,3 triliun. 2015 kita bisa surplus Rp2 triliun. Artinya yang mengangsur ditutupi, totalnya Rp34,4 triliun. Melunasi ada Rp32 triliun. Sisanya Rp2 triliun kita bisa buat tambahan," papar Agus.

Tak kalah berperannya, surplus itu turut disumbang oleh penempatan dana di luar kredit yang dialihkan dari deposit Bank Indonesia untuk membeli sukuk berbasis projek dengan bagi hasil yang lebih tinggi.

Total dana di luar kredit yang dialihkan ini, menurut Agus, berkisar Rp7 triliun dengan Rp2 triliun diparkir untuk membeli sukuk pemerintah. "Ada peningkatan yield. Dulu di SBI ratenya 5-5,5%. Tapi kita belikan sukuk pemerintah, rate 8,7-8,8%," jelasnya.

Kendati berhasil menggeser neraca negatif dari bisnis perbankannya, Agus mengungkap tantangan non performing finance (NPF) masih cukup tinggi. "NPF tahun lalu 6,8%-7%, 2015 kita lakukan perbaikan turun 1%," kata Agus.

Rekonstruksi kredit dilakukan dengan program Gerakan Sikat Satu Triliun (GESIT) dengan cara merapihkan pembukuan dari akun yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Program ini berhasil mengembalikan Rp1,3 triliun kredit macet sepanjang 2015.

Tahun ini program serupa kembali digalakkan dengan nama Gerakan Genggam Recovery (GEGER) yang ditargetkan mengembalikan Rp1,25 triliun kredit macet.

Selain meraup dana dari rekonstruksi kredit, BSM menargetkan pertumbuhan dana murah Rp 3,5-4 triliun. Dengan pertambahan itu, share dana murah dari total dana kelola menjadi 51-52%, "Sekarang ini sharenya 46-49%." (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya