Bunga Kredit Didorong Satu Digit

Anshar Dwi Wibowo
06/2/2016 01:00
Bunga Kredit Didorong Satu Digit
Sejumlah pekerja tengah mengerjakan proyek properti di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Senin (11/1).(MI/Usman)

PEMERINTAH terus mematangkan upaya penurunan suku bunga dasar kredit perbankan guna menstimulasi pembangunan. Sebagai penggerak, bank-bank badan usaha milik negara (BUMN) akan didorong untuk melakukan hal tersebut.

"Tadi membicarakan bagaimana secara menyeluruh kita dapat menurunkan suku bunga pinjaman. Pokoknya (kisaran) single digit," ujar Menteri BUMN Rini Soemarno di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Rini mengatakan upaya itu akan dimulai dari empat bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).

Untuk merealisasikannya, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

"Kalau kita berempat (bank BUMN) boleh dikatakan yang terbesar di perbankan nasional. Jadi tentunya kita harapkan kalau bank BUMN bisa melakukan, nanti industri (perbankan) akan bisa mengikuti," tuturnya.

Rini menuturkan penurunan suku bunga dasar kredit itu mestinya bisa direalisasikan dalam beberapa bulan ke depan.

Ia memproyeksikan bisa dimulai pada triwulan II 2016.

"Mungkin insya Allah bisalah (triwulan II)," kata dia.

Sebagai gambaran, BI mencatat per November 2015, suku bunga kredit korporasi Bank Mandiri sebesar 10,50% dan suku bunga kredit mikro 19,25%. Lalu BRI sebesar 10,75% dan 19,25%, serta BTN 11,49% dan 18,73%.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan penurunan suku bunga kredit itu dilakukan untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha.

Hal itu sekaligus sebagai cara untuk meredam gejolak pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah perekonomian dunia yang lesu.

"Supaya efisien, industri bisa jalan supaya biaya di Indonesia itu murah. Kalau mahal semua, tidak bisa bersaing kita, PHK lagi nanti. Jadi semua sektor yang bisa diturunkan cost, sumber cost-nya, harus diturunkan. Bunga, birokrasi, listrik, jalan semua," kata Kalla.

Bank tidak efisien

Saat menanggapi instruksi pemerintah menekan bunga kredit menjadi single digit itu, pengamat BUMN Arif Puyono membenarkan menahan suku bunga pada level tinggi akan membuat daya saing industri rendah.

Akan tetapi, ia juga mengingatkan penurunan bunga kredit hingga di bawah 10% dapat pula memicu capital outflow.

"Bunga 13% memang tidak ekonomis, tetapi kalau sampai single digit rawan sekali capital flight. Otomatis mereka harus menekan bunga simpanan, deposito, surat utang, ini bisa memicu larinya permodalan dan menekan nilai tukar rupiah," ujar Arif saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Yang menjadi persoalan saat ini, menurut Arif, biaya operasional perbankan di Indonesia terlalu mahal dan tidak efisien.

Bunga kredit yang besarnya hampir dua kali lipat dari bunga acuan itu menjadi bukti ketidakefisienan tersebut.

Bank, imbuhnya, harus serius merestrukturisasi kredit untuk menekan biaya dana tanpa harus menekan bunga tabungan, deposito, maupun surat utang yang rentan mengakibatkan outflow.

Terkait dengan hal itu, ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menolak untuk berkomentar sebelum kebijakan diambil banknya.

Sebelumnya, dua bank pelat merah besar lainnya, yakni BNI dan BRI, sudah menggaransi suku bunga mereka akan berangsur turun dalam waktu dekat.

(Fat/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya