Ojo Ngadali Kadal

Jessica Sihite
05/2/2016 08:10
Ojo Ngadali Kadal
(MI/Seno)

SEKITAR 30 nelayan dari Kecamatan Juwana, Pati, Jawa Tengah, datang menemui Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Rabu (3/2). Bukan ikan yang mereka bawa sebagai oleh-oleh, melainkan unek-unek dan berbagai pertanyaan kepada pendiri Susi Air itu.

Salah satunya dari Sukahar, 46, yang mengaku sedikit kecewa dengan rencana kebijakan larangan menangkap ikan untuk kapal berbobot 150 gross tonage (gt) ke atas. Larangan itu dinilainya bisa menurunkan hasil tangkapan dan berujung pada turunannya pendapatan. Pasalnya, dia memiliki kapal dengan bobot 100-150 gt sebanyak 8 unit.

Pria yang sore itu berpakaian batik abu-abu itu pun meminta dispensasi waktu kepada Menteri Susi untuk menerapkan aturan tersebut. Dia mengaku sudah telanjur menggelontorkan uang Rp6 miliar-Rp7 miliar untuk membangun kapal-kapal itu.

"Kalau besaran kapal direvisi jadi 150 gt ke bawah, mau dikemanakan kapal kita? Investasi kan baru berjalan. Yang kami minta dispensasi. Kalau kata Bu Menteri sampai akhir tahun," tukas Sukahar.

Uniknya, seorang nakhoda kapal yang juga ikut dalam rombongan itu, Mulyadi, 55, justru mendukung kebijakan tersebut. Menurutnya, kapal-kapal besar, apalagi dengan alat tangkap troll atau cantrang, sangat merusak ekosistem laut.

Terumbu karang dan tempat-tempat bertelurnya ikan rusak karena tergerus alat-alat tangkap itu. "Saya setuju dengan Ibu Susi karena populasi ikan akan rusak dan habis kalau diambil banyak-banyak."

Ia berharap para pemilik kapal sadar akan lingkungan dan mau menjaga ekosistem laut nasional. "Harapannya, ikan bisa melimpah dan mereka yang kapal besar sadar lingkungan," imbuh Mulyadi.

Seperti biasa, dengan santai dan suara lantangnya, Menteri Susi menjelaskan kebijakan itu sejatinya ditujukan untuk menyingkirkan kapal-kapal eks asing yang ingin meraup ikan di perairan Indonesia. Menurutnya, tidak ada pengusaha Indonesia yang bobot kapalnya di atas 150 gt.

Selain itu, Susi sependapat dengan Mulyadi, ia juga berharap ikan-ikan tidak langsung ditangkap dalam jumlah besar karena akan mengganggu populasi ikan di laut. "Kalau banyak-banyak, kasihan ikannya. Boleh tarik banyak, tapi keberlanjutan itu penting."

Ia tak menutup mata, ketika kebijakan itu nanti jadi diterapkan, para nelayan bisa saja membohonginya dalam urusan ukuran bobot kapal. Karena itu, ia mengingatkan para nelayan supaya tidak bandel dan mengikuti aturan main.

"Saya juga pengusaha dari bakul ikan. Kalkulasi usaha saya lumayan tajam. Serius, saya senang bapak-bapak untung besar, tapi semua ada ukurannya. Jadi, ojo ngadali (jangan mengadali) kadal," ucapnya diiringi gelak tawa nelayan. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya