Indonesia makin Memikat Investor

Irene Harty
04/2/2016 06:33
Indonesia makin Memikat Investor
(Sumber: Nielsen/BKPM/THINKSTOCK/L-1/Olah Grafis: Tiyok)

DI tengah lesunya perekonomian dunia, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi yang menggairahkan.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat komitmen investasi atau izin prinsip di Indonesia tumbuh 119% per Januari 2016 jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Dengan kata lain, ada lonjakan nilai investasi dari Rp94 triliun menjadi Rp206 triliun.

Hal itu disampaikan Kepala BKPM Franky Sibarani kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

"Peningkatan itu tidak lepas dari stabilitas politik dan keamanan. Komitmen investor amat dipengaruhi oleh baiknya iklim usaha."

Lebih jauh Franky menuturkan, dari komitmen investasi itu persentase penanaman modal dalam negeri naik 261% dengan porsi 19%.

Penanaman modal asing juga tumbuh 101% dengan porsi 81% dari keseluruhan izin prinsip.

Sektor-sektor usaha yang diminati investor ialah pembangkit listrik, real-estat, pertambangan, pengelolaan sampah, dan industri elektronik.

Deputi Bidang Pengendalian BKPM Azhar Lubis menambahkan penurunan komitmen investasi hanya terjadi di sektor maritim dan industri perkapalan sebesar 43% atau menjadi Rp49 miliar, serta industri padat karya, tekstil, dan sepatu yang turun 18% menjadi Rp4 triliun.

Chairman Kamar Dagang Inggris Adrian Short mengakui tingginya gairah investor asing terhadap Indonesia.

Survei Nielsen mengenai indeks kepercayaan bisnis di Tanah Air menunjukkan, dari 170 pengusaha Uni Eropa 50% di antaranya menilai Indonesia sebagai tujuan investasi positif pada 2015 dan prediksi 2016.

"Sekitar 71% pengusaha mengincar sektor infrastruktur, pariwisata 60%, makanan 54%, retail 52%, dan perikanan 43%."

Meningkatnya komitmen investasi, dalam penilaian ekonom Bank BCA David Sumual, membuktikan proyek infrastruktur dan paket-paket kebijakan ekonomi pemerintah memang ditunggu oleh investor asing.

"Ini harus terus dikawal. Kalau minat investasi terealisasi, itu akan menciptakan lapangan pekerjaan baru."

Pemimpin kelompok usaha Panasonic Gobel, Rachmat Gobel, mengakui untuk menarik pemodal, pemerintah jangan ragu memberikan insentif.

"Saat Jepang melirik Indonesia untuk membangun industri panel surya, PM Malaysia menemui PM Jepang agar mau mengalihkan investasi itu ke Malaysia. Karena insentif dan infrastruktur lebih baik, Jepang akhirnya memilih Malaysia."

Di sisi lain, Kepala Biro Hukum Kemendagri Widodo Sigit Pudjianto menegaskan pihaknya telah merevisi 132 peraturan menteri yang menghambat investasi.

"Misalnya, BUMN mendirikan bangunan lalu mencari uang untuk negara, tetapi lalu pemda memungut pajak, itu nggak boleh."

Faktor penghambat

Meskipun perekonomian Indonesia diprediksi membaik tahun ini, ada sejumlah penghambat yang harus diwaspadai, seperti faktor Tiongkok dan kualitas kredit perbankan.

Hal itu disampaikan anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Destry Damayanti dalam seminar bertajuk The Dawn of A New Era di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, kemarin.

Ketidakpastian perekonomian Tiongkok akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Destry, setiap pelambatan 1% ekonomi Tiongkok berdampak pada pelambatan ekonomi Indonesia 0,2%-0,3%.

Direktur Utama Eastspring Investments Indonesia Riki Frindos menyarankan pemerintah melakukan diversifikasi penggerak ekonomi dan sumber devisa.

"Meningkatkan kapasitas infrastruktur, manufaktur, dan sektor keuangan akan memacu pertumbuhan ekonomi."

(Tes/Wan/Uut/Nur/Arv/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya