Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA Penjamin Simpanan memproyeksikan kondisi likuiditas ketat masih dialami perbankan pada 2020 karena ekspansifnya penyaluran kredit yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang memadai.
Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan di Jakarta, kemarin, memperkirakan rasio pembiayaan terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan di 2020 mencapai 100,6% dan di akhir 2019 sebesar 96,8%.
Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas atas rasio intermediasi makroprudensial (RIM) Bank Indonesia yakni sebesar 94%. Adapun batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84%
"Itu karena pertumbuhan kreditnya naik secara ekspansif, sementara pertumbuhan DPK normal. Penyebab pertumbuhan kredit akibat meningkatnya permintaan untuk pembiayaan infrastruktur," ujar Fauzi sebagaimana dikutip dari Antara.
Oleh karena itu, Fauzi memperkirakan perbankan akan berlomba-lomba pada sisa tahun ini dan 2020 untuk mencari sumber pendanaan selain simpanan, seperti penerbitan instrumen utang ataupun pinjaman.
Seretnya pertumbuhan simpanan perbankan juga tecermin dari pertumbuhan DPK yang diproyeksikan LPS hanya mencapai 7,4% di akhir 2019. Padahal, industri perbankan masih agresif menyalurkan kredit perbankan hingga diproyeksikan LPS mampu mendongkrak pertumbuhan kredit hingga 11,7% di akhir tahun ini.
Untuk 2020, DPK perbankan diproyeksikan tumbuh hanya 8,4% dan kredit perbankan tumbuh hingga 12,1%.
"Maka itu, pendanaan dari nondeposit akan semakin penting tahun depan," ujar dia.
Fauzi menjelaskan perbankan masih akan ekspansif menyalurkan kredit di sisa tahun ini dan 2020 terutama untuk infrastruktur. Hal itu juga sesuai dengan arahan dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah agar fungsi intermediasi dari perbankan dapat menangkal dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Pertumbuhan kredit juga akan terpacu oleh pelonggaran suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia hingga September 2019 ini sudah tiga kali memangkas suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Dampak penurunan itu terhadap penurunan suku bunga simpanan dan kredit diperkirakan terjadi dalam 6-9 bulan ke depan.
Saat ini, LPS juga menurunkan suku bunga penjaminan sebesar 25 bps menjadi 6,50% (simpanan rupiah di bank umum), 9,00% (simpanan rupiah di BPR), dan 2,00% (simpanan valas di bank umum). Penurunan suku bunga penjaminan itu berlaku efektif terhitung 26 September 2019. (E-1)
PADA kuartal pertama 2026, pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan kualitas portofolio mengantarkan PT Bank BTPN Syariah Tbk menorehkan kinerja positif.
RUPST SMBC Indonesia menyetujui pembagian dividen tunai 20% dari laba bersih 2025 dan mengangkat Emilya Tjahjadi sebagai Direktur baru.
Ketahanan Perbankan RI Tetap Kuat Hadapi Risiko Dampak Perang Timur Tengah
DI atas kertas, Indonesia hari ini terlihat kuat. Kita memiliki bantalan fiskal Rp420 triliun, nilai yang tidak hanya besar, tetapi juga menenangkan. Sebanyak Rp120 triliun di Bank Indonesia
Lupa password akun penting? Simak 7 cara praktis mengakses sandi yang tersimpan di HP Android, iPhone, hingga Laptop Windows dan Mac secara aman.
Sidang perkara kredit PT Sritex yang melibatkan mantan pejabat Bank DKI, Babay Farid Wajdi, membahas risiko perbankan dan prosedur mitigasi kredit bermasalah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved