Data Antarkementerian Tidak Sinkron

Gabriela Jessica Restiana Sihite
22/1/2016 21:52
Data Antarkementerian Tidak Sinkron
(ANTARA/Didik Suhartono)

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar menilai persoalan meroketnya harga beberapa kebutuhan pokok, khususnya beras disebabkan oleh tidak sinkronnya data antarkementerian. Kementerian Pertanian dianggap sangat getol bahwa produksi beras mencukupi kebutuhan masyarakat.

Padahal, produksi beras dilihatnya tidak mencukupi. Karena itu, impor pun terlambat sehingga harga beras cenderung naik hingga saat ini.

"Persoalannya, Kementan selalu menolak adanya impor karena alasannya produksi cukup. Kalau produksi cukup, kan ga tinggi harganya seperti sekarang. Dan terbukti ujung-ujungnya impor. Sudah impor saja naik, gimana tidak impor?" cetus Hermanto, Jumat (22/1).

Guru Besar IPB tersebut memang tidak melihat adanya mafia dalam permasalahan ini. Hanya, pemerintah kurang sigap dalam merencanakan suplai kebutuhan bahan-bahan pokok untuk masyarakat.

Menurut dia, impor bukan merupakan hal yang tabu. Pasalnya, produksi kebutuhan pokok nasional secara nyata belum mencukupi kebutuhan nasional.

"Jangan haramkan impor. Prinsipnya memang utamakan produksi sendiri. Makanya perencanaan impor harus bagus. Laksanakan impor, simpan dulu di gudang Bulog. Nanti dilemparkan ke pasar pada saat panen kita belum datang-datang," tukasnya. (Jes/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya