Promosi Itu Investasi, Pariwisata Itu Komoditas

Eko Rahmawanto
29/10/2015 00:00
Promosi Itu Investasi, Pariwisata Itu Komoditas
(ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
BANYAK orang salah kaprah memandang promosi dalam manajemen. Ada yang hanya mengintip dari jendela biaya, sehingga menyebut promosi hanya buang duit, buang waktu, dan buang tenaga saja. Menpar Arief Yahya memiliki visi lain, promosi adalah investasi. Pariwisata adalah komoditas yang menjual servis karena itu harus dipromosikan. Lagi-lagi Arief Yahya mencontohkan produk sepatu Nike. Kalau ada display dua sepatu, sama ukuran, sama warna, sama model, sama pabrik, sama bahan, sama desain, sama operator pembuatnya, tidak ada yang beda. Yang satu ditempel logo Nike, yang satu lagi dibiarkan polos tanpa embel-embel logo. "Yang bermerek dibandrol dengan harga Rp1,5 juta. Apakah yang polosan itu laku dijual dengan harga Rp1 juta saja "Silakan dijawab sendiri!" tanya Menpar Arief Yahya.

Contoh lain, Menoar menyebut dua rumah yang di belakangnya sama-sama ditanam pohon mangga. Saat berbuah, rumah yang satu dibiarkan mangganya tetap bergelantungan dan matang di pohon. Sedang mangga yang satu dipetik, ditata rapi di depan rumah, biar dilihat orang yang lewat, ditempel harga, diberi stiker Truly Mangga. Bahkan, sang pemilik mangga itu ikut menawarkan langsung kepada orang-orang yang lewat, memasang spanduk, dan meminta tolong kepada tetangga, kawan, handai tolan, untuk membantu memasarkan mangga-nya.

"Pertanyaannya, mana yang lebih laku? Mana yang lebih banyak dibeli orang? Mana yang akan menghasilkan uang?” lagi-lagi tanya Menpar. Itu hanyalah analogi sederhana, untuk mendeskripsikan pentingnya promosi. Bahkan, lanjut Menpar, komoditas yang sudah dikenal dan terkenal pun tidak boleh berhenti berpromosi. Mantan Dirut PT Telkom yang berpengalaman membranding produk telco itu ingin berkisah flash back. Dulu, ada sabun merek Asoka, Lifebuoy, dan Lux. Yang masih terus berpromosi, terbukti masih eksis dan makin menemukan positioning produknya di pasar. Yang tidak berpromosi, hilang dari peredaran, tidak dikenal, bahkan generasi muda malah tidak tahu sama sekali akan mereknya.

Sama dengan produk pasta gigi, yang bersaing di pasar, antara Ritadent dan Pepsodent. Sama-sama odol, sama-sama membersihkan gigi, sama-sama mengharumkan mulut dengan rasa mint-nya. Sama-sama brand colornya, putih, biru dan sedikit aksen merah. Yang dipromosikan secara konsisten, melalui berbagai channel, yang berkembang, melebar market share-nya, dan eksis sampai sekarang. Bagaimana yang tidak berpromosi? Begitu pun dengan produk sigaret. Apakah merek rokok-rokok yang kuat dan sudah sukses menguasai market itu mengurangi biaya promosi? Atau malah men-stop budget promosi? Jawabannya, 100% pasti tidak. Mereka juga meningkatkan kualitas dan kuantitas berpromosi.

Menpar ingin memberi contoh akan pentingnya promosi, termasuk di sektor pariwisata. Sehebat, secantik, seindah, se-eksotis apapun destinasi yang dimiliki, tanpa dipromosikan, tanpa dikemas, tanpa disebar luaskan informasinya, tidak akan ada yang tahu. "Inilah kelemahan kita selama ini, yang sudah berkali-kali dikritik oleh Bapak residen Jokowi. Sampai-sampai di Sail Tomini 2015 Sulteng dan pencanangan pembangunan Kawasan Pariwisata Terpadu Mandeh Sumber, berkali-kali menekankan: Promosi! Promosi! Promosi!" tutur dia.

Mungkin akan ada pertanyaan lagi: Bagaimana kalau destinasinya belum siap? Buat apa promosi? “Rata-rata tingkat hunian hotel kita itu hanya 50%, dari kapasitas yang tersedia. Kalau target per tahun naik 20% saja, maka hanya akan terisi 60% dari total kamar? Asumsikan yang paling ekstrem deh, naik 50% setelah promosi, itu baru 75% yang terisi, masih cukup space-nya."

Karena itu, konsep membungkus Singapura dengan branding Wonderful Indonesia itu akan terus dipantau ketat, seberapa besar impact pasarnya? Seberapa banyak wisatawan mancanegara yang bisa dijaring dari “kolam ikan” Singapura? Seberapa efektif model promosinya? "Promosi itu tidak dilepas begitu saja. Tetapi terus diamati pergerakan angkanya, dan sejauh ini, sampai dengan bulan September 2015, angka-angkanya masih progress, masih naik, di tengah suasana ekonomi global yang lesu," kata dia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya