Pemerintah Optimistis Hadapi Volatilitas Global

Nuriman Jayabuana
22/10/2015 00:00
 Pemerintah Optimistis Hadapi Volatilitas Global
( ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Pertumbuhan ekonomi dunia kian tertekan dan semakin menunjukan ketidakpastian. Belum lama ini lembaga moneter internasional IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global, dari 3.3 persen pada bulan Juli menjadi 3,1 persen pada Oktober 2015.

Kendati demikian, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif di tengah volatilitas ekonomi global. Bank Dunia memprediksi perekonomian Indonesia tahun ini mampu mencapai 4,7 persen. Sementara untuk tahun mendatang mampu bertumbuh 5,3 persen.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan banyak negara yang merevisi proyeksi pertumbuhannya karena ketidakpastian global. Namun, Indonesia berhasil menavigasi ketidakpastian tersebut dengan cara yang positif.

“Saat negara emerging lain tertekan, Indonesia merupakan tempat yang lebih baik dalam mengatasi tantangan ke depan dibanding negara lain, misalnya saja Brasil dan Rusia,” ujar dia saat berpidato di hadapan sejumlah petinggi Bank Dunia di Jakarta, Kamis (22/10).

Salah satu indikatornya, menurut dia, merupakan peningkatan penilaian kredit terhadap Indonesia dari stabil menjadi positif.

“Saya optimistis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab indicator makroekonomi kita masih menunjukan kondisi yang baik,” ujar dia.

Dia menjelaskan, saat ini inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia masih terjaga di kisaran 6 persen. Selain itu, arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) juga masih menunjukan tren positif. “Dengan pertumbuhan minimal 15 persen per kuartal,” kata dia.

Belum lagi dari aspek kinerja neraca perdagangan. Bambang mengatakan pada periode Januari hingga Septemmber tahun ini masih mencatatkan surplus sekitar 7 miliar USD.

Selain itu, dia menyebut kinerja ekonomi makro Indonesia yang baik tercermin positif dalam sejarah pengelolaan utang. “Investor percaya terhadap instrument utang kita yang masih mampu menawarkan imbal hasil yang menarik,” ujar dia.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah mampu menjaga posisi utang pada kisaran 25 persen atas PDB selama lima tahun terakhir. Defisit anggaran, menurut Bambang, secara disiplin dipertahankan di bawah 3 persen. “Kita juga mempertahankan deficit anggaran di bawah 1,9 persen dari GDP utk APBNP 2015,” ujar dia.

Bambang meyakini penerapan berbagai kebijakan --seperti anggaran belanja yang berfokus pada belanja produktif, skema subsidi yang tepat sasaran, dan keterlibatan pemerintah daerah dalam belanja anggaran—mampu mendongkrak situasi ekonomi nasional.

“Pemerintah menghapus subsidi untuk pengembangan infrastruktur dan perbaikan kesejahteraan sosial, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, budget belanja infrastruktur lebih tinggi dari subsidi energy,” ujar dia.

Namun demikian, Bambang mengatakan pemerintah saat ini menargetkan peningkatan tax coverage untuk menggenjot penerimaan perpajakan yang belum terserap optimal dalam struktur anggaran. “Potensi dari perpajakan masih besar,” ujar dia. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya