Tren Investasi Intra-ASEAN Bakal Meningkat

Irene Harty
21/10/2015 00:00
 Tren Investasi Intra-ASEAN Bakal Meningkat
()
Managing Partner Roland Berger Malaysia selaku Kepala Praktisi untuk Energi, Ekonomi Sipil, dan Maritim, Anthonie Versluis, mengungkapkan hubungan antarnegara ASEAN terutama investasi akan terus meningkat. Dari data Roland Berger, sharing intra ASEAN per 2013 mencapai 69% sedangkan dengan luar ASEAN mencapai 31% terutama dengan Tiongkok.

Berbeda dengan Uni Eropa yang investasi intranya hanya mencapai 40% sedangkan ke luar hingga 60%. "Uni Eropa dalam keadaan panik sekarang karena sangat berfokus ke luar negeri. Itu sebenarnya sesuai juga dengan pembentukan Uni Eropa yang berbasis keamanan sedangkan ASEAN berbasis kolaborasi," ungkapnya dalam konferensi pers di kantor Roland Berger Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10).

Anthonie juga menambahkan pertumbuhan investasi intra ASEAN mencapai lebih dari 8% periode 2004-2014. Dari tahun 2000 hingga 2014 investasi intra regional tumbuh 28% dibandingkan investasi dari luar regional sebesar 12%.

"Meskipun positif, daya saing dan efisiensi harus ditingkatkan untuk melanjutkan pembangunan beruntun," lanjutnya. Hal itu karena celah PDB negara paling berkembang dengan negara yang kurang berkembang masih cukup jauh 25 kali lipatnya ketimbang di Uni Eropa yang hanya 5 kali lipat.

Pertumbuhan kawasan Asia Tenggara menarik untuk kegiatan komersial dengan pertumbuhan populasi dan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dari rerata dunia. Hal ini berkaitan dengan terus meningkatnya hubungan bilateral dan migrasi lintas negara.

Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN juga lebih meningkatkan integrasi ekonomi dan memperkuat kawasan. Namun hambatan yang masih besar masih soal daya saing untuk menarik investasi.

"Negara anggota ASEAN perlu meningkatkan efisiensi pasar dan kesiapan teknologi dalam rangka meningkatkan daya tarik. Mereka harus terus berkembang ke arah ekonomi yang didorong oleh inovasi," jelas Anthonie. Birokrasi juga mesti dikurangi agar lingkungan bisnis semakin bertumbuh.

Dari beberapa negara di Asia Tenggara, Anthonie memprediksi ekonomi CLMV atau Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam akan berkembang sangat cepat dalam lima tahun ke depan. Bisnis lokal dan asing dirancang untuk berkembang di daerah ini yang juga akan tumbuh karena peningkatan Penanaman Modal Asing dalam beberapa tahun terakhir dan kedekatan wilayahnya dengan Tiongkok.

"Liberalisasi ekonomi dan peningkatan hubungan dengan negara dagang utama seperti Uni Eropa dan AS juga akan melambungkan pertumbuhan," tuturnya. Myanmar memimpin pertumbuhan PDB riil, pertumbuhan PDB per kapita, dan pertumbuhan total perdagangan rerata dalam jangka waktu 10 tahun yakni 2005 hingga 2014.

Laos memimpin dalam PMA dengan pertumbuhan sebesar 47% pada 2020. Hal itu didorong oleh meningkatnya sebagian besar perdagangan dengan negara tetangga, perbaikan infrastruktur, pengembangan pariwisata, serta pengembangan industri sumber daya alam.

Kendati demikian kendala yang dihadapi oleh negara-negara Indocina tersebut masih menyangkut produktivitas pertanian yang rendah. Sektor pertanian hanya berkontribusi seperempat ke PDB negara-negara itu

"Produktivitas pertanian setiap tahun di daerah tersebut antara US$480-US$540 pada 2013 ketimbang Indonesia, Filipina dan Thailand yang berkisar antara US$1.000 hingga US$1.200 untuk bisa berkontribusi lebih pada perekonomian regional dan akan tumbuh kuat selama 10 tahun ke depan," jelas Anthonie. Sementara itu, Singapura terlihat akan mulai mengalami penurunan industri di berbagai sektor karena terbatasnya sumber daya alam.

Singapura diperkirakan hanya akan bertahan lewat sektor perbankan dan konsumsi alias belanja. Indonesia sendiri masih dalam proses pembenahan dan perbaikan untuk lima tahun mendatang agar lebih banyak menarik investasi.

Selain itu kendala juga masih dilihat dari industri pariwisata yakni masalah keadaan lingkungan, keamanan, sistem keamanan, dan tenaga yang buruk. Menurut Principal Roland Berger Singapura, Vincent Casanova, negara mesti mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Termasuk membebaskan persyaratan visa dan menciptakan jalur ekspress untuk wisatawan Asia Tenggara. Badan pariwisata pemerintah juga harus berusaha untuk meningkatkan konektivitas untuk memudahkan perjalanan antara satu lokasi ke lokasi lain," tandas Vincent. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya