Pelaku Usaha Desak Pemerintah Serius Tingkatkan Kualitas Infrastruktur
Husen Miftahudin
21/10/2015 00:00
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Pengusaha logistik mengaku kendala infrastruktur telah menghambat distribusi logistik Tanah Air. Bahkan biaya logistik saat ini mencapai 24 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) senilai Rp1.820 triliun per tahun.
Chief Executive Officer (CEO) PT Kamadjaja Logistics Ivan Kamadjaja menuturkan biaya logistik terdiri atas biaya penyimpanan sebesar Rp546 triliun, biaya transportasi Rp1.092 triliun, dan biaya administrasi sebesar Rp182 triliun. Maka itu, ia meminta agar pemerintah serius meningkatkan kualitas infrastruktur jalan raya maupun pelabuhan agar dapat menekan biaya logistik.
"Ketersediaan infrastruktur yang baik jika dipadukan inovasi logistik terintegrasi, saya yakin biaya logistik dapat ditekan. Kami terus berinovasi untuk menciptakan biaya logistik yang murah. Ini penting agar dapat mendorong aktvitas perdagangan di Indonesia," ujar Ivan melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (21/10).
Dia mengungkapkan kunci utama penurunan biaya logistik terletak pada ketersediaan infrastruktur yang berkualitas dan terkelola dengan baik. Selain itu, penurunan biaya logistik dapat melalui penghapusan biaya administrasi.
"Biaya logistik di Indonesia adalah yang paling tinggi di dunia. Di negara tetangga Malaysia, biaya logistiknya hanya 15 persen, sedangkan di Amerika Serikat dan Jepang hanya berkisar 10 persen," tuturnya.
Ivan menambahkan sebagai pelaku usaha di sektor logistik, pihaknya terus berinovasi untuk menciptakan sistem layanan terpadu berbiaya murah sembari menunggu pemerintah meningkatkan kualitas logistik dalam negeri. Melalui K-Log Park yang tersedia di Cibitung, Jawa Barat; Surabaya, Jawa Timur; dan Medan, Sumatera Utara, K-Log Park menyediakan end-to-end solution untuk kebutuhan supply chain management yang mampu menurunkan biaya distribusi logistik.
"Penurunan biaya logistik dapat dicapai melalui solusi logistik terintegrasi. Sistem ini dapat meningkatkan produktivitas perusahaan antara 50-90 persen. Jika ada efisiensi, tentu volume perdagangan meningkat dan makin kompetitif," pungkas Ivan. (Q-1)