Pelemahan rupiah cukup tajam pada perdagangan kemarin, mengikuti penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Asia.
"Perlu diingat, faktor eksternal berhasil membawa koreksi tajam atas tren pelemahan rupiah sebelumnya," demikian disampaikan analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta, Rabu (21/10).
Menurut dia, tanpa adanya perbaikan signifikan pada prospek pertumbuhan Indonesia atau peningkatan usaha stabilitas rupiah oleh Bank Indonesia (BI), maka rupiah akan bergerak dengan volatilitas tinggi mengikuti dinamika pasar global.
Selain itu, yield surat utang negara (SUN) juga terlihat naik, di mana 10y mulai mendekati 8,8 persen sehingga premium terhadap US Treasury 10y masih bertahan di 667 basis poin.
"Pengetatan likuiditas rupiah di pasar interbank menunjukkan adanya kekuatan yang menyerap likuiditas," tutur dia.
Oleh karena itu, rupiah berpeluang lebih kuat hari ini dengan dolar index yang melemah dini hari tadi walaupun volatilitas menjelang FOMC meeting mulai ada. (Q-1)