Pemerintah menetapkan target pendapatan dan belanja negara dalam postur sementara RAPBN 2016 turun dari target yang ditetapkan sebelumnya.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pendapatan negara dalam postur sementara kali ini menjadi Rp1822,5 triliun, atau turun dari yang disepakati dalam RAPBN 2016 sebelumnya sebesar Rp1848,1 triliun.
“Penurunan target pendapatan negara seiring penurunan target penerimaan pajak dari Rp1848,1 triliun menjadi Rp1822,5 triliun,†ujar Bambang dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Kamis (15/10).
Pendapatan negara bukan pajak juga dipatok sebesar Rp273,8 triliun dari sebelumnya Rp280 triliun. Dengan adanya penurunan target pendapatan, maka belanja negara juga turun dari Rp2121,3 triliun menjadi Rp2095,7 trliun.
“Belanja pemerintah pusat dari Rp1339,1 triliun menjadi Rp1325,6 triliun. Ada penundaan belanja Rp21,3 triliun yang akan kembali diusulkan dalam APBNP.â€
Belanja pemerintah pusat terbagi dua. Anggaran belanja kementerian/lembaga naik dari Rp780,4 triliun menjadi Rp784,1 triliun. Dan anggaran belanja non K/L turun dari Rp558,7 menjadi Rp541,4 triliun.
Selain itu, perubahan dalam postur sementara APBN 2016 juga terjadi pada alokasi transfer ke daerah dan dana desa dari Rp782,2 triliun menjadi Rp770,2 triliun. “Transfer ke daerah turun dari Rp735,2 triliun menjadi Rp723,2 triliun. Dana desa tetap Rp47 triliun."
Sementara untuk anggaran pendidikan tetap dipertahankan 20% dari APBN dan anggaran kesehatan 5% dari APBN, meskipun secara nominal turun akibat penurunan postur sementara APBN. â€Sebelumnya dana pendidikan sebesar Rp428,8 triliun menjadi Rp419,1 triliun. Anggaran kesehatan sebelumnya Rp106,1 triliun menjadi Rp104,8 triliun.â€
Dalam postur tersebut, defisit anggaran sebesar Rp273,2 triliun atau 2,15%. Sementara nilai tukar rupiah dipatok di angka Rp13.900/USD dari sebelumnya Rp13.400/USD. Suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebesar 6,2%.
Bambang menjelaskan penetapan nilai tukar di angka Rp13.900/USD karena sifat nilai tukar rupiah yang fluktuatif. Meskipun saat ini rupiah menguat, namun masih ada kemungkinan melemah secara tiba-tiba. Masalah nilai tukar menurutnya masih bisa diubah dalam pembahan APBN-P 2016.
“Kesimpulannya karena pergerakan kurs masih fluktuatif, kita ambil angka konservatif di Rp13.900. Nanti kita bisa bahas ini jika disetujui dalam pembahasan APBN-P. Kita tidak mau semua nyesel dan saling menyalahkan nantinya, jika tidak menetapkan Rp13.900,†urainya.
Sedangkan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$60 per barel turun menjadi US$50 per barel. Lifting minyak bumi tetap 830 barel per hari dan lifting gas bumi tetap 1.155 barel setara minyak per hari.
“Untuk volume BBM bersubsidi dari 17,9 juta kiloliter (kl) turun menjadi 16 juta kl.â€
Ketua Badan Anggaran Ahmadi Noor Supit mengatakan pembahasan ini merupakan hasil terakhir yang begitu berat untuk diputuskan dalam postur sementara APBN yang dibahas.
“Ini berat. Semua terjadi begitu mendadak. Dengan postur sementara ini kita akan bekerja memasuki pembahasan belanja pusat dan belanja daerah.â€(Q-1)