Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan, Fauzi Ichsan mengungkapkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini masih melambat. "Tahun ini 11,8%, tahun depan 13,8%," ungkapnya ditemui usai Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (12/10) malam.
Perlambatan itu dikatakannya terjadi karena dampak dari perlambatan ekonomi dengan harga komoditas yang terus menurun. Dalam kondisi itu kredit bank yang tadinya lancar menjadi tidak lancar dan memakan waktu.
Mandetnya kredit tentu membuahkan rasio kredit bermasalah yang bisa mencapai 2,6% hingga saat ini dan akhir tahun ini mencapai 2,7%. Lebih jauh, meski kondisi ekonomi membaik, Fauzi memprediksi Non Performing Loan hingga akhir tahun akan naik sedikit pada level 2,8% termasuk dampak dari tahun ini.
Fauzi menambahkan LPS sendiri melihat target pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,3% sampai dengan 5,5% sepanjang tahun ini. "Tahun ini perkiraan pertumbuhan ekonomi 5,3%, Bank Indonesia juga sekitar segitu," lanjutnya.
Namun bila harga komoditas kembali melambung seiring dengan ekspor, Fauzi memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik tajam. Dalam perhitungannya jika 60% ekspor Indonesia yakni komoditas naik tajam maka pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,6% namun bila hanya 10%-20% maka pertumbuhan ekonomi hanya 5,3%.
Harga komoditas yang membaik serta pertumbuhan ekonomi yang lebih optimis dengan pembangunan infrastruktur yang kelihatan dipandang Fauzi akan terjadi tahun depan. "Kalau harga komoditas rebound dan suku bunga naik paling tidak 25 basis poin," sahutnya.
Berkenaan dengan penguatan kurs rupiah yang terjadi masih dalam batas normal. Dalam keadaan normal kurs rupiah berada di kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 per dolar AS sedangkan jika tidak normal maka akan jauh dari kisaran wajar terutama di pasar spot.
"Kalau kita bicarakan Rp13.000-Rp13.500 per dolar AS bisa dibilang dolar, rupiah bisa stabil disitu kalau ekonomi dunia dan pasar finansial global stabil," sahut Fauzi. Dia memprediksi jika memang keuangan global lebih baik maka kisaran nilai tukar rupiah bisa ada di kisaran tersebut sampai akhir tahun ini dalam keadaan realita spot rate bisa jauh dari spot value.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Erwin Rijanto mengatakan menguatnya nilai tukar rupiah karena kondisi ekonomi global yang membaik terutama dari sisi persepsi. Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan serta Kementerian Keuangan pun semuanya akan melakukan tindakan agar bukan hanya persepsi yang membaik tapi membaik secara fundamental.
Mengenai kredit perbankan, pertumbuhannya belum naik signifikan mencapai sekitar 11,3% hingga kuartal IV 2015. "Kita mengharapkan dengan adanya paket kebijakan, kita coba untuk dorong ke batas atas, kalau bisa 12% cukup bagus, kalau bisa 13% bagus," tandas Erwin. (Q-1)