PT Bank QNB Indonesia Tbk membukukan penaikan total aset 11% pada Semester II 2015 menjadi Rp23,1 triliun ketimbang akhir 2014. Hal itu ditanggapi positif oleh Direktur Bisnis QNB qlo, sejak awal tahun 2015 hingga saat ini keadaan perekonomian nasional sangat menantang bagi perbankan di dalam negeri. Tidak sedikit perbankan yang mencatat kinerja yang menurun.
"Di awal tahun ada krisis Yunani, ketidakpastian The Fed, dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Situasi ini bersampak pada perbankan di Indonesia. Makanya aset naiknya melandai, tetapi kredit kita tetap tumbuh," ucap Azhar saat konfrensi pers di Jakarta, Jumat (9/10).
Pertumbuhan kredit QNB Indonesia selama semester I tahun ini sebesar 22% atau Rp3,3 triliun ketimbang tahun lalu, sehingga menjadi Rp18,4 triliun. Pertumbuhan kredit itu diklaim Azhar lebih tinggi ketimbang rata-rata pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 14%-16%.
Azhar menambahkan portofolio kredit pihaknya mayoritas untuk korporasi dan komersial, seperti untuk infrastruktur.
Pertumbuhan kredit tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh penaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17% ketimbang akhir tahun lalu hingga menjadi Rp19 triliun. "Kalau di industri melandai 12% sementara kita tumbuh 17%," tuturnya.
Kendati pertumbuhan kredit meningkat, Azhar mengatakan rasio kredit macet (NPL) QNB Indonesia merangkak naik sejak 2013. Pada tahun tersebut NPL sebesar 1,8%, pada 2014 naik menjadi 2,2%, dan semester I tahun ini menjadi 2,6%.
"Kita masiu menjaga supaya NPL ga lebih besar lagi," ucapnya.
Di samping itu, lanjut Azhar, QNB Indonesia tengah melakukan pengembangan sistem IT. Pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk menyediakan sistem IT dan saat ini masih dalam tahap meminta persetujuan Otoritas Jasa Keuangan.(Q-1)