Kebijakan penjualan kembali saham buyback dinilai membuat investor enggan membeli saham tersebut. Oleh karena itu, Presiden Direktur Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja menyatakan akan menunggu peraturan yang lebih mudah sebelum melakukan buyback saham.
Jahja memaparkan, jika saham buyback sudah dimiliki, saat ingin dijual kembali, maka ada beberapa peraturan yang memberatkan investor. Pertama, nama investor yang akan membeli kembali saham tersebut harus diumumkan ke publik.
"Investor itu nggak mau namanya di-announce. Eh ini mau beli ini. Nggak mau," katanya, di acara Knowledge Forum IV BCA, Rabu (7/10).
Kedua, saham buyback yang akan dilepas kembali, tidak boleh diberikan potongan harga. "Padahal di pasar harga retail ini kan, harga block sale harus ada discount. Kalau tidak siapa yang mau beli?" cetus Jahja.
Jadi, Ia masih mempertimbangkan untuk melakukan buyback saham. Karena akan sulit untuk menjual kembali saat harga sudah lebih baik.
"Jadi kita lagi nunggu kebijakan untuk kemudahan ex-buyback untuk lebih mudah lagi dijual di pasar," ujarnya.
Jahja mengatakan, pihaknya akan mempersiapkan anggaran buyback saham jika peraturan tersebut sudah lebih dipermudah. Katanya, BCA akan mempersiapkan dana hingga trliliunan rupiah untuk transaksi tersebut.
"Kalau mau buyback sekalian triliunan, jangan miliaran. Kita siapkan single digit triliun," ungkapnya.
Sejak 2011, BCA memiliki program sendiri untuk mendorong para karyawannya aktif berinvestasi di pasar modal. Jadi, bagi setiap pekerja yang akan diberikan bonus satu bulan gaji, namun dengan syarat harus membeli saham di luar dan tidak boleh dijual dalam kurun tiga tahun.
"Itu semua karyawan, dari 22 ribu karyawan, ada sekitar 15 ribu yang dapatkan program ini. Karena kalau yang terlalu kecil ngak worthed, seperti office boy," jelasnya.
Turunkan bunga kredit
Lebih lanjut Jahja Setiaatmadja menyatakan akan menurunkan bunga kredit untuk beberapa nasabah prioritas yang masih keberatan dengan suku bunga saat ini. Namun, penurunan tersebut akan lebih dipertimbangkan untuk menghindari spekulasi pembelian dolar.
"Bunga dana udah turun, tapi untuk beberapa nasabah yang masih ketinggian, kita turunkan secara selektif dan secara masal," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya juga tidak akan memberi penurunan bunga kredit terlalu rendah, agar tidak disalahgunakan para spekulan.
"Karena kalau terlalu rendah, nanti dipakai buat spekulasi buat beli dolar," cetusnya.
Hingga akhir September, transaksi kredit BCA meningkat hingga enam persen. Peningkatan tersebut dinilai signifikan, karena pada akhir Juli lalu masih pada kisaran tiga persen.
Hingga akhir tahun, Jahja optimistis peningkatan kredit akan mencapai 10-11 persen. Karena, hingga saat ini sebenarnya akad kredit sudah mencapai 10 persen, namun belum dipergunakan oleh nasabah.
"Makanya kita optimis Desember nanti bisa sampai 10 persen," katanya.
Katanya, penyumbang terbesar peningkatan kredit tersebut dari sektor korporasi yang saat ini butuh banyak penambahan modal.
Ia juga menerangkan, pihaknya telah menyediakan likuiditas yang dapat memenuhi target kredit sampai akhir tahun
Saat ini, Rasio Kredit Macet (NPL) BCA masih aman di kisaran 0,1 persen. Sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dipersiapkan saat ini sebesar 19 persen.
Selain itu, Direktur Konsumer BCA, Henry Koenafi menjelaskan, semenjak suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah diturunkan menjadi 8,8 persen, sektor tersebut memberikan dampak pertumbuhan yang baik.
"Bagus, setiap bulan kita nambah Rp400 miliar," katanya. (Q-1)