PT Pertamina Gas (Pertagas) akan menyalurkan penambahan gas sebesar 85 juta kaki kubik per hari (Mmscfd) kepada PT Petrokimia Gresik (PKG). Penyaluran gas tersebut nantinya akan melalui pengembangan ruas pipa open access East Java Gas Pipeline (EJGP) milik Pertagas. Kerja sama kedua badan usaha milik negara (BUMN) tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian pengangkutan gas bumi melalui pipa.
Rencananya, gas yang akan disalurkan kepada PKG nantinya akan berasal dari Lapangan MDA dan MBH milik Husky CNOOC Madura Limited. Pipa EJGP milik Pertagas akan menjadi transporter gas dari lapangan gas tersebut ke PKG di Jawa Timur.
Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya menyatakan kerja sama ini menunjukan sinergis antar BUMN untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi. Dia juga mengatakan umur pipa EJGP masih panjang hingga 2030, sehingga dia berharap tidak ada kendala dalam pengoperasian pipa saat menyalurkan gas ke PKG. "Dari kajian kita, lifetime EJGL ini dar Pagerungan-Gresik bisa sampai 2030. Kapasitas penyaluran kita juga baru 320 Mmscfd dari kapasitas maksimal 600 Mmscfd. Jadi masih bisa salurkan gas di masa mendatang," papar Hendra di kantornya, Jakarta, Rabu (7/10).
Untuk menyalurkan penambahan gas sebesar 85 Mmscfd tersebut, Pertagas akan mengembangkan pipa open access looping baru di ruas Gresik - PKG dengan diameter pipa 12 inchi sepanjang 4,65 kilometer. "Kapasitas maksimal pipa looping itu mencapai 100 Mmscfd," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PKG menuturkan saat ini gas yang disalurkan dari pipa milik Pertagas untuk pabriknya sebesar 60 Mmscfd. Penambahan gas sebesar 85 Mmscfd akan digunakan sebagai pasokan gas untuk pabrik baru PKG, yakni Amoniak-Urea II. Pabrik itu rencananya akan rampung pada 2017. Penyaluran tambahan gas ke PKG akan dimulai pada tahun tersebut hingga 2026.
"Gas ini dibutuhkan untuk pabrik kedua yang sangat penting karena akan kurangi impor amoniak dan urea," ucap Hidayat.
Saat ini, kata dia, impor amoniak yang dilakukannya mencapai 400 ribu ton per tahun. Sementara impor pupuk urea yang dilakukan PKG untuk memenuhi kebutuhan di Jawa Timur mencapai 1,2 juta ton per tahun.
Produksi amoniak dan urea PKG sendiri saat ini, lanjutnya, sekitar 440 ribu ton per tahun dan 450 ribu ton per tahun. Pabrik Amoniak-Urea II yang akan dibangun PKG direncanakan akan memproduksi 2 ribu metrik ton amoniak per hari dan 1.725 metrik ton urea per hari.
"Sekarang progres pembangunannya sudah 21%. Pabrik kita kedua ini nanti bisa mengurangi 600 ribu ton impor amoniak dan urea per tahun. Jadi proyek ini penting untuk kedaulatan pangan Jawa Timur," klaim Hidayat.
Lebih lanjut, Hidayat mengatakan biaya penyaluran gas yang diberikan Pertagas kepada PKG saat ini sebesar US$0,84 per Mmbtu. Sementara biaya pembelian gas dari Husky sebesar US$6,5 per Mmbtu.
"Harga yang dibayarkan ke Pertagas ini biaya transport. Sudah diatur oleh BPH Migas. Kalau berdasarkan SK sekarang biayanya 0,84 per Mmbtu dan bisa naik kalau SK berubah," imbuhnya. (Q-1)