Kepala BPPT Unggul Prayitno mengatakan bahwa eksistensi sumber daya laut semakin terancam. Terbukti akibat ilegal fishing serta adanya pemutihan karang, saat ini hanya 5,23% terumbu karang yang dalam kondisi baik.
Hal itu semakin diperparah dengan adanya lahan tambak mencapai lebih dari 400 ribu hektare dari 1,2 juta ha kawasan potensial yang menganggur karena eksploitasi berlebih. Pemanfaatan lahannya pun saat ini masih kurang dari 2%.
"Dikhawatirkan, kondisi itu bakal ikut menurunkan kemampuan daya dukung terhadap penyediaan pangan," katanya saat membuka The 3rd International Workshop in Sato Umi-Gempita SPL-Gapura di Jakarta, Rabu (7/10).
Menurut Unggul, berbagai ancaman dan tekanan terhadap keberadaan sumber daya perikanan, pesisir, dan lautan itu justru menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemaanfaatan yang ada belum seimbang.
Padahal, sumber daya tersebut dinilai sangat potensial dan menjanjikan. Bahkan disinyalir mampu menjadi andalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama nelayan dan masyarakat pesisir.
"Untuk mengelola dan memperbaiki kondisi itu, sumber daya laut tidak hanya dijadikan objek kegiatan manusia. Akan tetapi, perlu dikelola dengan cara yang lebih baik dan bijaksana," ungkapnya.
Sejalan dengan pemikiran itu, harus diterapkan sistem harmoni antara teknologi dan alam tanpa mengenyampingkan nilai dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Dalam hal ini, BPPT bekerja sama dengan beberapa pihak internasional menyosialisasikan dan mendiseminasikan konsep Sato Umi melalui pengembangan program pendidikan, pelatihan, dan inovasi teknologi budidaya perikanan berkelanjutan.
Sato Umi merupakan konsep pengelolaan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan, dimana intervensi manusia dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah pesisir dan laut dapat meningkatkan produktivitas dan keragaman jenis sumber daya perikanan.
Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan BPPT Suhendar I Sachoemar menjelaskan, bahwa dalam skala yang lebih luas, konsep dasar SATO-UMI dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan ketersediaan sumberdaya alam sebagai sumber pangan dengan menjagastabilitas ekosistemnya.
"Dengan menerapkan konsep ini diharapkan sumberdaya perikanan dan lingkungan khususnya di wilayah pesisir yang telah rusak dapat pulih kembali," ungkapnya.
Selain itu, penanfaatan lahan idle bisa lebih produktif dan kaya akan keanekaragaman sumberdaya hayati secara seimbang dan harmonis serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Lebih lanjut diungkapkan, konsep Sato Umi telah diterapkan dalam kegiatan Gerakan Pembangunan Pantai Utara Jawa Barat (Gapura) dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat.
Salah satunya melalui pengembangan dan pemasyarakatan teknologi produksi perikann budidaya ramah lingkungan Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) berbasis sistem bioresirkulasi di lahan tambak terbengkalai (idle).
"Diharapkan konsep Sato Umi memiliki semangat yang sama dengan technopark, sehingga dapt diterapkan untuk mendukung pelaksanaan technopark di Indonesia," pungkasnya. (Q-1)