Kinerja Inovasi Indonesia belum Optimal

Puput Mutiara
06/10/2015 00:00
 Kinerja Inovasi Indonesia belum Optimal
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Indeks Inovasi Global 2015 menunjukkan kinerja inovasi Indonesia belum sampai pada titik optimal. Saat ini, total inovasi yang dihasilkan baru sekitar 30% dari jumlah kapasitas produktif inovasi Indonesia.

Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Moeldoko selaku President Strategic Center for Indonesia Innovation mengatakan, bahwa hal itu cukup memprihatinkan di tengah potensi inovasi Indonesia yang ada.

"Selama ini kebijakan nasional dalam mengembangkan inovasi masih lemah. Apalagi komite inovasi nasional sudah tidak ada lagi, mengurus hak paten atau hak intelektual saja kita lamanya luar biasa," katanya dalam Diskusi Panel Ekosistem Inovasi Nasional di Jakarta, Selasa (6/10).

Dibandingkan dengan 141 negara lain di dunia, kinerja inovasi Indonesia ada pada peringkat ke-97 dengan beberapa faktor pendukung yang juga dinilai masih sangat rendah.

Misalnya saja, faktor institusi seperti lingkungan politik, regulasi, serta minimnya kekuatan persaingan bisnis di Tanah Air. Indonesia begitu jauh tertinggal jika coba disejajarkan dengan Singapura yang saat ini merajai kawasan Asia Tenggara.

"Kita hanya lebih baik dari Myanmar, tapi kalah oleh Kamboja, Vietnam, apalagi Singapura. Di dunia, bahkan peringkat kita di bawah Kenya dengan urutan 92," ungkapnya.

Menurut Moeldoko, perlu ada sebuah kebijakan yang secara nyata mendukung perkembangan inovasi di Indonesia. Salah satunya dengan mengedepankan karya-karya anak bangsa agar bisa bersaing di dalam maupun luar negeri.

Ekosistem inovasi

Untuk membangun sebuah ekosistem inovasi, ia menilai anggaran riset yang ada saat ini masih sangat kecil. Sebagaimana diketahui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) baru menganggarkan 0,08% saja, padahal idealnya adalah 1% dari GDP (Gross Domestic Product).

"Jangankan kapitalisasi bagi anak-anak bangsa, hak paten saja susah," cetusnya.

Di sisi lain, Dosen Strategi dan Manajemen Inovasi Universitas Indonesia sekaligus Ketua Umum Planet Inovasi Avanti Fontana menjelaskan, ekosistem yang kondusif memungkinkan terjadinya jejaring kerja sama inovasi diantara seluruh komponen bangsa dan organisasi untuk menghasilkan karya inovasi itu sendiri.

"Pendidikan dan riset, infrastruktur, kematangan pasar serta bisnis harus dibangun. Termasuk keberadaan SDM yang ahli dan terampil dalam berinovasi juga disiapkan," imbuhnya.

Selain itu, interaksi antar pelaku inovasi nasional yaitu pemerintah, bisnis/industri, lembaga riset/universitas, dan komunitas mesti dibudayakaan dalam praktik pembangunan nasionaaal berbasis inovasi. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya