Sejumlah produsen tahu di Kota Bekasi mengeluhkan tingginya harga bahan baku pembuatan tahu, Kedelai. Sejak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang mencapai Rp14 ribu, harga kedelai impor naik menjadi Rp7.500 hingga Rp8.000 per kg.
Sakum, 52, salah satu pemilik pabrik tahu di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Margahayu, Kota Bekasi, mengungkapkan, para pengusaha tahu di sekitar wilayah Kota Bekasi menyiasati kenaikan harga bahan baku pembuatan tahu dengen memperkecil ukurannya. Dari semula, tahu yang dibuat berukuran 6x6 cm, sekarang hanya berukuran 5x5 cm.
"Sekarang kami siasati dengan memperkecil ukurannya, dari 6 senti ke 5 senti sampai 4,5 sentimeter," ujarnya saat ditemui, Jumat (28/8).
Sakum mengatakan, para produsen tahu belum berani menaikan harga jual tahu di pasaran. Hal ini dilakukan semata-mata huntuk menjaga konsumen agar tidak kabur.
Sejak nilai tukar rupiah melemah, ujar Sakum, ongkos produksi tahu semakin meningkat. Faktor utamanya adalah, meningkatnya harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu. Sebelumnya, harga kedelai impor adalah Rp6.900 perkilogram dan saat ini telah mencapai Rp7.500 hingga Rp8.000 per kg.
Kedelai impor dipilih Sakum, lantaran kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan kedelai lokal. "Kalau kedelai lokal, hasil tahunya tidak bagus," lanjut dia.
Setiap hari, Sakum mengaku mengolah dua kwintal kedelai untuk dibuat tahu. Dari dua kwintal kedelai, dirinya bisa menghasilkan 7.000 buah tahu. Biaya produksi yang biasa dikeluarkan adalah sebesar Rp4 juta. Sedangkan, harga jual tahu per buah yakni Rp1.000. Biasanya bila tahu miliknya laku terjual maka ia bisa memperoleh omzet sebesar Rp7 juta per hari.
Akan tetapi, sejak dua pekan lalu, Sakum mengaku mengalami penurunan omzet hingga 35 persen. Sebab, dari 7.000 buah tahu yang Ia produksi, hanya 4.000 buah saja yang bisa terjual per harinya.
"Mungkin penyusutan ukuran tahumembuat konsumen pada komplen, ya kita jadi serba salah, mau dinaikin kabur, tidak dinaikin juga rugi, diperkecil sama aja pelanggan kabur," ujarnya.
Sementara itu, di Pasar Baru Kota Bekasi, seorang pedagan tahu, Subhan, 40, mengaku kalau penjualan tahu di pasar sedang lesu. Padahal, harga tahu sengaja tidak dinaikan.
"Padahal tidak naik harganya, cuma agak sedikit kecil, tetap konsumen tidak mau beli," jelasnya.
Subhan mengaku, biasanya, 100 buah tahu yang Ia jual, sudah habis terjual sejak pagi. Namun, saat ini baru laku 75 buah.
"Biasanya sih udah abis ini. Pembeli pada komplain," ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkorp) Kota Bekasi, Aceng Solahudin menyampaikan, di kota bekasi sebagian besar usaha di sektor riil seperti pedagang tahu terkena dampaknya. Terutama, bagi para pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor, seperti pengrajin tahu dan tempe serta usaha lainya.
"Memang akan berpengaruh ke para pelaku usaha. Sebab mereka pakai bahan baku kedelai impor, sedangkan dolar semakin tinggi," jelasnya.
Aceng berharap, agar nilai suku bunga yang di tetapkan pemerintah kepada para pelaku usaha sektor rill berbeda dengan usaha lainya. Hal ini, bisa mengurangi mengurangi dampak kenaikan nilai tukar Dolar bagi para pelaku usaha. (Q-1)